Selasa, 21 Februari 2012

Nenek Moyang Kita? Siapa?

Nenek moyangku seorang pelaut….
Ingat tentang lagu ini? Lagu yang dinyanyikan sewaktu kita masih SD. Dinyanyikan sesaat sebelum pelajaran berakhir. Lumrah jika kita mengatakan nenek moyang kita adalah pelaut karena memang Indonesia adalah Negara maritime yang 75% wilayahnya adalah laut. Laut sebagai pemisah dan laut yang merekatkan pula.
Namun sejak saya duduk di kelas 1 SMP ada sebuah pendapat baru yang saya dengar. Dari mata pelajaran Sejarah saya mengetahui pendapat lain mengenai nenek moyang manusia. Ini bukan hanya untuk orang – orang keturunan Indonesia asli tapi universal untuk seluruh warga dunia di manapun rumah dan asal usulnya. Semua memiliki satu nenek muyang yang saya pikir sangat IMPOSSIBLE.

Berawal dari Mata pelajaran Sejarah yang menuangkan masa – masa prasejarah dan kehidupan mahkluk yang mereka sebut dengan Phytecanthrophus erectus kemudian dilanjut dengan mata pelajaran Biologi tentang teori evolusi. Salah satunya Teori Darwin yang menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah sejenis primate yang mengalami evolusi.
Ini kembali bergelayut dalam benak saya setelah kunjungan alias piknik kelas ke salah satu studio indoor yang berisi wahana – wahana yang menarik di awal bulan februari lalu, di salah satu wahana ada yang menerangkan tentang Teori Evolusi. Dan ini menggelitiki saya. Masih layakkah teori itu ada di sana?
Ada pergolakan batin setiap bab ini di bahas. Bukankah dalam Al Qur’an jelas dikatakan bahwa Manusia pertama yang dicipatakan adalah NABI ADAM AS yang diciptakan dari sebongkah tanah yang kemudian di utus ke bumi untuk menjadi Khalifah sehingga mendapat pertentangah dari JIN karena merasa kedudukannya lebih tinggi karena tercipta dari api dibandingkan dengan Adam yang tercipta dari tanah??
Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah : 7)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al Hijr: 26)

 Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr : 28-29)

Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)
Lalu manusia kedua yang diciptakan adalah Hawa yang tercipta dari tulang rusuk Adam.
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)
Tidak ada baik di Al Qur’an maupun Al Hadist yang mengatakan bahwa manusia berawal dari MONYET! Tidak ada. Namun mengapa mata perlajaran yang diajarkan di sekolah – sekolah mengatakan hal yang berbeda?
Apakah Nabi Adam itu berbentuk seperti Phythecanthrophus erectus??
Ini pernah saya tanyakan pada guru ngaji saya sewaktu saya SMP. Beliau menjelaskan bahwa bentuk Nabi Adam sama seperti halnya manusia sekarang tidak berbentuk monyet. Yang berbeda adalah ukuran tubuhnya yang lebih tinggi dan besar. Begitu penjelasannya.
Entahlah. Wallohu a’lam. Yang jelas saya tidak suka jika saya disamakan dengan MONYET! Kita memiliki akal dan pikiran yang jelas membedakan kita dengan monyet.
Terlebih dalam buku Charles Darwinyang berjudul On the Origin of species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life atau biasa disingkat The Origin of Species sendiri Darwin Mengatakan ada beberapa hal yang dia ragukan dengan teorinya sendiri. Bukankah aneh jika seseorang memepercayai suatu karangan yang pengarangnya sendiri ragu dengan karangannya. Ada juga beberapa pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh Darwin misalnya berkaitan dengna mekanisme yang menyebabkan perubahan bentuk makhluk hidup dari generasi ke generasi.
Banyak pula yang telah melakukan penelitian yang berusaha menemukan pembuktian mengenai teori Darwin namun justru banyak yang menemukan bukti bahwa teori ini terbukti salah dan tidak bisa dipertahankan. Pembantahan dan keraguan mengenai teori evolusi Darwin masih terus didengungkan. Namun herannya di bangku pendidikan ini masih terus diajarkan. Bagaimana mungkin sesuatu yang menyimpang masih terus diajarkan dalam silabus dan buku panduan generasi bangsa? Bukankah ini justru membuat bingung anak – anak muda antara pelajaran agama dengan pelajaran dunia mengapa ada perbedaan?
Maka ketika perdebatan dan kebingungan ini menyelimuti diri kita, manakah yang mesti kita percayai? Mana yang layak untuk kita pertahankan? Maka saya hanya akan memberikan 3 pilihan yang menentukan seperti apa anda dalam memaknai diri anda sendiri.
Pilihan ini saya kutip dari Lintang tokoh jenius dalam lascar pelangi mengenai keabsahan teori yang menyatakan nenek moyang manusia adalah monyet. Ucapan lintang ini juga mampu membantu adik – adik dan teman – teman yang mugkin juga pernah memiliki tanda tanya besar dan ketidakterimaan selama pelajaran biologi.

Lintang said , “Persoalannya adalah apakah anda seorang religious, seorang Darwinian atau sekedar seorang oportunis? Pilihan sesungguhnya hanya dua antara relius dan Darwinian, sebab yang tidak memilih adalah oportunis. Yaitu mereka yang berubah – ubah sikapnya sesuai situasi mana yang akan lebih menguntungkan mereka.
Lalu pilihan itu seharusnya menentukan perilaku dalam menghargai hidup ini. Jika anda seorang Darwinian silakan berperilaku seolah tak ada tuntutan akhirat karena bagi anda Kitab Suci yang memaktub bahwa manusia berasal dari Nabi Adam adalah dusta. Tapi jika anda  seorang religious, maka anda akan tahu bahwa teori evolusi itu PALSU! Dan ketika anda tak kunjung mempersiapkan diri untuk dihisab nanti dalam hidup setelah mati maka dalam hal ini anda tak lebih dari seorang sekuler oportunis yang akan dibakar di dasar neraka!!”

Mati dan kematian adalah hal yang selalu mengiringi kehidupan manusia. Semua sama di depan kematian. Semua yang bernyawa pasti merasakan mati. Kematian diibaratkan pintu gerbang bagi setiap yang bernyawa menuju kehidupan yang kekal. Kehidupan yang abadi yang tidak berujung. Kehidupan yang sesungguhnya.
Satu hal yang sudah pasti benar adalah AL QUR’AN merupakan kebenaran yang mutlak. Apa pun yang tertulis dalam kitab ini sudah pasti benar keabsahannya! Ini Kitab bukan dikarang atau direka oleh  manusia. Ini adalah Firman Tuhan yang pasti benar.
“(Alloh) yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia.” [Ar Rohman ayat 1-3]
Sebenar keyakinan kita bahwa Alloh itu satu. Alloh SWT. Yang menciptakan dan TIDAK DICIPTAKAN.
“Katakanlah, “Dia-lah Alloh Yang Maha Esa”. Hanya Alloh-lah tempat kita bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidakdiperanakan. Dan tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya”. [Al Ikhlas ayat 1-4]
Seperti apa kita memaknai hidup adalah terlihat dari apa yang kita percayai dan yang kita lakukan . Jadi masih perlukah bingung?
Nenek moyang kita BUKAN MONYET!

2 komentar:

Anonim mengatakan...

hebatttt sekali anda dengan mudah meruntuhkan teori yang sudah berumur 150 tahun lebih,anda layak mendapatkan nobel hihihihi.....

Solihatun Khasanah mengatakan...

hoho... jika mereka darwinian di sana musnah mungkin saya layak dapat nobel. lha nobel saja pemberiannya kadang tidak objektif owk.
saya juga heran kenapa Bush mantan presiden Amerika dapet nobel Perdamaian, padahal dia hobi bikin perang. hehehe...

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung...
Tinggalkan komentar ya.. ^-^