Rabu, 29 Agustus 2012

DIFFERENT IS NOT BAD, GUYS

"Tuhan menciptakan kita dalam sifat dan karakteristik yang berbeda agar kita mau mengenal, mengerti dan memahami. Dan dalam perbedaan itu kau akan menemukan persamaan. Jika kita mau memahami perbedaan maka akan mudah menerima persamaan yang ada." [lihazna on spirit]

Pernahkan sobat muda merasakan perlakuan yang berbeda dari seseorang?

Mungkin ada yang menjawab "Aku pernah." atau "Sering."

Beberapa bulan terakhir aku juga pernah merasa aku tidak berharga. Aku merasa seperti sampah yang tidak bisa diterima di suatu tempat. Sampah ini merasa ada yang aneh. " Apa yang salah denganku?"
"Apa aku berbuat sesuatu yang buruk? Buruk sekali hingga menyakiti seseorang?"

Puluhan kali ini terpikirkan. Apa yang membuatku 'dibedakan'?

Kemudian dhuhur ini aku menemukan suatu jawaban singkat yang membuatku mampu tersenyum kembali.  Benar jawabannya satu kalimat. Mengapa aku dibedakan? Karena aku memang berbeda.

Sobat sejak kecil kita telah terlahir berbeda dengan individu lainnya. Kita istimewa karena seidentik apapun kita dengan seseorang kita akan tetap terlahir berbeda. Serius. Anak kembarpun tidak memiliki sidik jari yang sama. Apalagi kita yang terlahir tidak kembar alias alone. Dan lingkungan, latar belakang keluarga dan sikap mereka dalam membesarkan kita akan membentuk kita pada individu yang semakin berbeda. Termasuk anak kembar yang didik bersama. Akan ada kebiasaan, sikap, sifat dan karakteristik yang membedakan satu sama lain. Apalagi  kita yang telahir berbeda (sendiri) dan dibesarkan di latar belakang yang berbeda.
Bukankah demikian?

Lalu mengapa ada sikap merasa aneh ketika seseorang memperlakukan kita berbeda dengan cara orang tersebut memperakukan orang lain?
Jawabannya memang karena kita memiliki  karakteristik yang berbeda.

Anda akan  bersikap berbeda ketika memperlakukan seseorang yang baru anda kenal 15 menit dengan orang yang anda kenal 15 tahun. Anda akan berbeda sikap ketika anda bersama orang yang sehobi dan yang tidak sehobi dengan anda.

Simple bukan? Yang selalu akan mencari titik yang sama. Satu lagi. Titik kenyamanan. Dan kenyamanan merupakan sisi subjektifitas yang dipengaruhi oleh perasaan
So, intinya perlakuan yang sama atau berbeda pada dasarnya akan bergantung dua hal tersebut.

Jika anda pernah merasa seperti saya, maka pertanyaan yang perlu anda tanyakan adalah bukan apa yang salah denganku? Melainkan bagaimana teman kita merasa cocok dan nyaman dengan kita?

Aku pernah membaca suatu artikel yang menuliskan perbedaan sikap yang Rosululloh  ketika berhadapan dengan orang yang berbeda - beda. Seperti topeng. Namun saya kurang senang dengan penyebutan topeng karena seolah kita menjadi diri dan pribadi yang berbeda - beda sehingga tidak menjadi diri kita sendiri. Saya lebih suka mengatakan teknik adaptasi karakteristik pada cara Rosululloh bersikap.

Beliau akan berlaku kebapakan ketika bersama Abu Bakar As Sidiq, bersikap tegas ketika bersama Umar bin Khatab. Berlaku sopan dan pemalu ketika bersama Utsman bin Affan dan menjadi pribadi yang cerdas dan berwawasan luas ketika berdiskusi dengan Ali bin Abi Tholib. Rasululloh merupakan satu individu yang apa adanya beliau memang demikian. Ini bukan berarti saat beliau dengan Abu Bakar beliau menjadi lembek dan tidak tegas, atau menjadi sosok yang hilang kebapakkannya ketika bersama Umar. BUKAN!
individu dengan banyak kepribadian. BUKAN!
Tetapi orang fleksibel yang mampu beradaptasi dengan berbagai karakteristik sehingga kehadiran beliau selalu nyaman dan diterima oleh banyak individu dengan tanpa kehilangan jati dirinya sendiri.

Perbedaan selalu ada, dan akan selalu membayangi kita tetapi jika kita selalu memikirkan segi 'beda'-nya terus menerus lalu kapan kita bisa bersatu teguh dalam ikatan dan jalinan yang utuh?
Dan jika kita memikirkan segi nyaman kita, mau sampai kapan kita akan egois? Memikirkan segi nyaman kita yang subjektif dan hanya menerima sisi yang menurut perasaan kita lebih mudah kita terima??

Dari sini kita bisa mengambil teladan dari sosok yang paling berpengaruh di dunia ini. Bahwa diterima di suatu tempat bukan kita mencari persamaannya saja. Tetapi menilik adanya perbedaan yang membuat kita akan mengenal  banyak karakteristik dan mulai mencoba mengerti  sehingga kita akan sampai pada titik kita akan memahami satu sama lain.

Jika terus saja merasa mendapat perlakuan berbeda dari teman kita, maka kenalilah teman kita lebih jauh . Karakteristik kita yang berbeda antara kita dengan orang lain mungkin yang membuat teman kita memperlakukan kita berbeda.  Anda dengan pribadi yang mandiri tidak mungkin akan diperlakukan manja oleh sobat anda. 
Jika tidak nyaman maka berusahalah berkaca pada diri kita sendiri. Sudahkan kita membuat teman kita nyaman sehingga kita menuntut perlakuan yang nyaman dari teman kita????

LIFE is beautifull. So untuk apa dibuat ruet dengan perasaan sampah seperti iri ingin disamakan. Pada dasarnya kita terlahir berbeda, dengan karakteristik yang berbeda maka tidak heran jika akan mendapat perlakuan yang berbeda dari sobat kita.
LIFE is never flat. So buat yang never flat itu menjadi lengkungan pelangi  yang indah di wajahmu. Different is not bad kok..

SALAM POSITIF ^_^

# semoga inti sarinya mengena. So Show must go on!!!

Oleh Solihatun Khasanah
H+7 idhul Fitri 1433H ,12:56 PM
Mencoba memahami perbedaan untuk menyatukan
" seperti batu bata, pasir dan semen :P"