Kamis, 22 November 2012

Bila aku ...

Bila aku jatuh hati
Akan banyak maaf terucap, banyak lara terobati
Bila aku jatuh cinta
Banyak waktu ku untuk menunggu, banyak harap untuk percaya
Bila aku menjatuhkan pilihan,
Maka ada banyak bunga bermekaran

Namun...
Di saat detik dan nafas berlanjut ada satu kekosongan
Satu kehampaan
Akankah Kau cemburu Tuhan?

Jika waktuku untuk-Mu ku bagi?
Jika hati dan kamar jiwaku terbagi-bagi?

Ada satu tanya yang melintas ...
Akankah ini baik untukku retas?

Tidak..
Ku rasa tidak, cemburu-Mu lebih kutakuti
selintas rasa tak sepantasnya dibawa berlari
Selintas rindu tak sepantasnya diajak menapak

Hanya selintas untuk diretas?
terlalu baik untuk dibahas..

Bila aku ...
ada dalam rindu.

Lihazna, 2 November 2012
Tiba-tiba romantis setelah membaca novel romantis ^_^

Minggu, 11 November 2012

Hening - Bukankah kita teman? (2)


I know your favorite songs and you tell me about your dreams
I think I know where Your belong. I think I know it's with me

Can't you see that I'm the one who understands you?
Been here all along so why can't you see?
You belong with me
Alunan lagu yang mengalir dari radio usang di lantai atas kontrakan membuat tangan Kayla berhenti menyapu. Dia mematung cukup lama mendengar bait demi bait terlantun dengan suara khas Taylor Swiift. Lagu yang pernah membawa Swift menjadi nominasi untuk 3 Grammy Award 2010 itu mengingatkan Kayla tentang cerita masa SMA-nya. Cerita lama yang mengalun bersama lagu lama itu.

Jumat, 02 November 2012

Bukankah kita teman? (1)



“Lina, katanya kamu juara satu ya?” kata Pipit itu sambil tersenyum. Lesung pipitnya langsung mengundang siapapun untuk memandang. Dia duduk di bangku depanku. Anak manis dari keluarga priyayi. Tempat tinggalku masih kental dengan tradisi pengelompokan orang berdasar profesi dan keturunan.

Contoh saja Pipit, neneknya keturunan priyayi dan dia anak guru SMA sehingga teman – temannya yang lain harus memanggilnya Mba Pipit sekalipun kami seumuran atau lebih tua. Simple alasannya karena dia anak guru. Jadi kalau kau memanggilnya Pipit saja berarti kau tidak sopan.

“Iya, tapi masih kecamatan kok,” jawabku juga dengan senyum. Senyumku tidaklah semanis Pipit. Aku juga tidak manis dan cantik. Aku biasa saja. Tapi otakku bolehlah kau sebut sedikit mujur. Aku menjuarai Lomba IPA tingkat kecamatan, padahal aku tidak banyak menjawab pertanyaan, hanya diam, menghitung dan jika yakin barulah aku menjawab. Jadi sebenarnya juara satu itu sebuah keberuntungan kecil. Dan keberuntungan itu membawaku ke ajang yang lebih tinggi.

“Lomba Kabupatennya mulai kapan?” tanya Irah, teman sebangku Pipit. Irah sama denganku, dia anak orang biasa. Anak petani, anak buruh, anak kuli, anak pedagang tidak termasuk priyayi jika keturunannya juga keturunan orang biasa. Yang dianggap priyayi di tempat kami adalah pejabat desa, guru dan mereka yang masih keturunan kraton. Maka dari itu teman – teman hanya akan memanggil kami, sebatas nama saja. Lina. Heh Lina! Dan sejenis itu. Hanya nama saja tanpa embel – embel ‘Mba”.

“Katanya Bulan Agustus,” jawabku singkat seadanya.