Rabu, 30 Januari 2013

Coret coret

Salam sahabat penaa...

Selamat beraktifitas di siang terang bolong yang kaya bajunya nenek ompong yang malang tertidur melintang di pinggir kasur yang jomplang. Lho?
Memikirkan masalah pulsa adalah hal lumrah bagi mahasiswa belum berpenghasilan seperti saya. Yang sangunya masih meminta jika kiriman terlambat lalu ngutang? Lho?

Sak jane aku meh nulis opo?

Baiklah sahabat, kali ini saya akan menuliskan sebuah coretan yang mungkin sebenarnya ya tidak menarik tapi entahlah mengapa saya menuliskannya. 

Minggu, 27 Januari 2013

Menulis itu bercerita


Salam sahabat maya
Pada tulisan kali ini secara pribadi saya akan mengungkapkan kekaguman saya pada sepasang suami istri yang senang menulis. Merefleksikan cerita kehidupannya dalam tulisan yang unik dan berharap dari kepingan - kepingan tulisan itu tersimpan makna yang dapat diambil hikmahnya..



Singkat kata, saya mengagumi catatan milik Teh Dwi Yoshafetri Yuna alias teh Ocha. Serta website Pribadi milik suami Teh Ocha , Ridwansyah Yusuf Ahmad alias Uda Yusuf. Bukan apa - apa, saya pikir mereka saling melengkapi. Dari mana saya tahu? mudah, cermati saja tulisannya.

Senin, 21 Januari 2013

Antara Kita dan Waktu



Ketika sawah dan bukit itu terlewati...

Hari ini di bawah langit jingga di ufuk barat yang mampu ku terowong dari balik kaca kereta aku menyadari sesuatu hal .Perubahan lain yang kulewatkan.

Kau makin kalem saudaraku, melihatmu menjauh dan menjaga jarak membuat ku tersenyum simpul,kau bisa menempatkan diri di depan kami. Melihatmu saudaraku yang lain lagi, Kamu yang dulu konon katanya nakal. kini berputar otak agar bisa lulus, TA mudah, tugas kuliah mulus, melihat semangatmu aku tersipu. Kau makin membuatku malu. Lalu menyadari saudariku yang ku tinggal kini dewasa dan pengayom membuat dadaku menjadi lapang.. aku di sini mematut diri melihat betapa senangnya melihat perubahan postif kalian. Betapa aku bukan apa - apa dibandingkan kalian

Jumat, 18 Januari 2013

Di balik "Antara Kita & Jakarta"


Catatan di balik Film Pendek “Antara Kita & Jakarta”

Sebuah pengakuan …
Awalnya aku menulis script itu karena kita. Mendengar kehampaan di ‘kebersamaan kita’membuatku ingin mengingatkan kembali dengan film itu. Tentang tawa kita, tentang canda kita, kebersamaan kita.


Awalnya aku pedih, mendengar kita terbagi – bagi seperti puzzle rusak yang urutannya tak jelas sehingga tak satu, tak membentuk harmoni. Karenanya aku menuliskannya dengan banyak harap di sana.

Kamis, 17 Januari 2013

Kau yang berubah


Betapa wujudmu tak lagi sama sahabatku
Sikapmu membuat banyak orang takut pada mu

Saudaraku
Kepedulian ini hanya mampu kuurai dalam kata
Takut akan dirimu yang berubah membungkam bibirku
Membuatku enggan mengungkapnya.

Inikah topeng aslimu?
Inikah dirimu yang asli, sahabatku?
Inikah kamu yang sesungguhnya saudaraku?
Ataukah karena aku baru mengenalmu yang sesungguhnya?
Ataukah karena memang aku yang tak pernah mengenalmu sebelumnya?

Aku takut padamu
Takut dan teramat takut
Bolehkah aku berlari dan menjauh?
Melepaskan semuanya dan berkata menyerah?

Aku takut padamu
Kamu yang berubah begitu jauh,
Sikapmu yang berubah tak lagi sesantun dahulu

Ketika banyak topeng terpampang
Kulayangkan harapan kosong
Kecewakah?

Rabu, 16 Januari 2013

Untitled


Aku selalu sulit menempatkan diri dengan baik.
Selalu salah dalam bersikap.
Aku ingin berkata A, yang keluar dari mulutku adalah B
Dan tersampaikan dengan sempurna, diterima dengan apik oleh mereka
Dan tersimpulkan sudah aku berkata B

Ketika perubahan bertandang


Sebuah cerita,

Empat bulan aku pergi dan ketika kembali, semua tak lagi sama seperti saat aku pergi. Kamu, dia dan juga tempat ini, keadaan di sini dan semuanya sudah tak lagi sama. Ada yang melangkah maju, ada yang berakhir, ada yang berjalan mundur dan ada juga yang berganti topeng.
Waktu
kau telah pergi sembari membawa titik nyaman bahagiaku…
--
Di jam yang sama, tiga minggu yang lalu,
Menunggu waktu yang berputar menurutku tak lebih cepat dari adukan kopi. Ada harap, cemas, rindu yang menggumpal, senyum yang tersungging. Mingu – minggu sebelum berangkat waktu terasa amat lambat. Aku ingin segera berganti hari, berganti minggu dan aku bisa kembali bertemu denganmu. Kembali padamu.