Senin, 21 Oktober 2013

Sketsa Pelangi : Goresan satu

Episode Senja 

Sore itu...
Saat angin bertiup begitu pelan, saat awan teduh menaungi langit, saat padi menguning di sepanjang mata memandang.
Saat dimana angin pelan mampu menggoyangkan daun mangga hingga terlepas dari  tangkai. Jatuh perlahan ke sungai bersama dedaunan lain yang menguning. Daun itu hanyut tanpa tenggelam. Posisinya bagai perahu karet yang dipakai dalam arum jeram. Meliuk melewati batu – batu kali yang menghadang. Mengambang mengikuti air yang mengalir ke hilir. Melewati sela – sela kaki Mba Aisyah. Kakakku yang baru datang dan kini tengah berdiri menghadang air di tengah sungai. Menatapku yang sama sekali tak peduli dengan kedatangannya.
Sore yang indah, asyiknya menonton ikan kecil yang bermain di sela kakiku sampai akhirnya kabur, ngibrit melihat kaki Mba Ais yang kasar mendekat. Ah, Mba Ais, apa sih yang kau kerjakan seharian hingga kakimu sebesar kerbau? Lihat saja ikan itu lari semua melihat kakimu yang menakutkan.
“Nis, dicariin  Mas Ihsan tuh!” ucapnya langsung.
“Nanti ah Mba, masih asik nih...” sautku tak peduli.
“Dicariin tuh, kalo ngga cepet pulang nanti makin marah tu orangnya.
Ku tatap kakak perempuanku satu – satunya itu. Yang paling baik nan rajin. Tangannya penuh terigu, pasti sedang buat adonan pisang goreng. Berarti gawat nih, tidak biasanya Mba Ais meninggalkan si pisang begitu saja. Ya sudahlah menurut saja. Melihat tangannya penuh terigu, perasaanku jadi tak enak.
Kami berjalan beriringan. Menyusuri sawah dan ladang petani. Melewati kebun jagung yang mulai menguning. Menyeberangi kebun rambutan yang belum berbuah. Mulai membayangkan rambutan berwarna merah menggoda menggantung lezat di sela – sela dedaunan. Sepertinya manis dan lezat.
Ah, lagi – lagi si tangan terigu itu mengakhiri kesenanganku lagi, Mba Ais menggandengku, menuntunku agar berjalan lebih cepat, membuyarkan lamunanku tentang si merah manis yang entah kapan bermunculan di kebun itu.

Kamis, 17 Oktober 2013

Satu detik ini milik Allah

"Orang yang paling bodoh adalah orang yang merasa memiliki waktu"
Kemarin, Selasa 15 Oktober 2013 entah pukul berapa saya menyadari satu hal yang mahal dan tak tergantikan. Tempo, satu kata yang oleh Allah sampai dijadikan sumpah oleh-Nya. Demi Masa.

Ceritanya bermula ketika usai sholat Ied saya diundang oleh Kakak saya untuk makan di tempat beliau. Sekitar pukul 10.30, saya baru selesai berbenah dan bersiap berangkat. Ketika itu saya sempatkan mampir ke warung dan menonton penyembelihan hewan kurban di masjid samping kost saya. Oleh karena itu waktu perjalanan saya menjadi tidak tentu.

Entah pukul berapa, saya sudah berdiri di depan kantor. Di trotoar sebelum fly over saya berdiri menunggu angkot 616 jurusan Pasar Minggu - Blok M via pancoran. Karena panas dan terik saya berinisiatif membuka minuman botol yang saya beli di warung, dan saat itulah pertunjukan Kekuasaan Allah dimulai.

Senin, 14 Oktober 2013

Puisi Jarak

Menurut saya diksi, dan polanya menyentuh. Karena itu saya porting di sini...
-------------------

Puisi Jarak

Pada mulanya kita diam, tak saling kenal…
Lalu…….. ada cakap mengalir menjalin cerita..
Kau dan aku hanyalah sisa-sisa perasaan..
Dari percakapan bermula hingga akal lupa dimana kita berada
Setelah sekian lama mengalami ilusi,
Kita mencoba mengerti
Memeluk hati, cukuplah seperlunya…
Bilapun aku harus berhenti mencintaimu dalam detik dan detak,
Biarlah aku pergi…
meninggalkanmu, pelangi dan senja…
Kepak malaikat memetik gitar sebagai pengiring pergiku..
Karena pergi itu pasti..
Anggaplah itu caraku mencintaimu
Lantas… mari kita mengenal rindu.
Kaupun beranjak, begitu pula aku merangkai jejak
Melepaskan hal-hal yang tidak masuk akal,
Seperti selalu ada dan bersama..
Kuntum kesepian yang dulu dipetik,
Kini mulai tumbuh dan dibiarkan merekah
Kitapun mengenal sepi diantara wewangi perkara hati
Meski telah aku tuliskan di kulit hujan,
Kesepian adalah sudut terujung dari nestapa..
Dan biarlah jarak mengajarkan cinta, dengan siapa kita mendapatkan nama..
Saat tak saling sapa karna jarak,
Sampai kini… kau melekat di hatiku tanpa sekat
Aku merindukanmu pada jarak yang tak mudah ditebak
Meski harus tersentak pada waktu yang tak berdetak
Aku mencintaimu diantara jarak yang terselip jejak kita dahulu
Walau terhentak tempat yang tak terungkap..
Semoga………. kau masih sediakan rumah untukku di hatimu…

--------------------------------------------------------
sumber : link

Rabu, 09 Oktober 2013

puzzle of the rainbow

Once upon time, dahulu, ketika tangan ini belum bisa menyentuh kuping tatkala ia melingkari atas kepala, ketika untuk mengepang rambut terasa begitu susah dan jauh tergapai tangan, ketika itu pula, saya memandang dunia sebatas hitam dan putih. 

Hanya itu. Hanya dua warna, baik dan buruk, seperti halnya dunia telekomunikasi, dunia sinyal, khususnya digital. Mudah ditebak, mudah didefinisikan, jika bukan baik ya buruk. Hanya itu.

If that isn't one, that is zero. just it, simple.

Jumat, 04 Oktober 2013

Something in the past, just in the past

Mikhael N Syuauqi di facebook melampirkan sebuah foto yang bagus, isinya berupa tulisan berikut ini : 
Berilah kesempatan seseorang untuk berubah. Karena seseorang yang hampir membunuh Rasululloh pun kini berbaring di sebelah makam beliau. Who? Umar bin Khatab.
Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperan melawan agama Allah-pun akhirnya menjadi pedang-nya Allah. Who? Khalid bin Walid.
Jangan memandang orang dari status dan hartanya. Karena sepatu emas Fir’aun ada di neraka, sedangkan sandal jepit Bilal bin Rabbah terdengar di syurga.
Stop judge someone just because something that they do in the past. Semua dapat berubah. bukankah tidak ada sesuatu yang tidak akan berubah kecuali perubahan itu sendiri? 
Give everyone an opportunity to change, if they want..
Biarkan sebagaimana waktu yang mengalir

Kamis, 03 Oktober 2013

Ganbare ~ berjuanglah

Tidak semua mimpi yang kau gambarkan akan menjadi kenyataan
Kau seharusnya mengerti hal itu
Sekalipun langit akan runtuh, aku masih dapat menerimanya
Tidak apa-apa, aku ingin menjadi orang dewasa yang ramah atas kebohongan
Berjuanglah, berjuanglah dengan jiwa yang membara
Teruslah hidup dalam kenyataan
Berjuanglah, berjuanglah dalam hari-hari yang terbatas ini
Buatlah bunga bermekaran..
Jika ada keinginan yang ingin kau raih, maka jangkaulah dgn penuh  kerinduan
Bahkan kitapun akan meraba-raba untuk meraih hari esok
Aku bisa menemukan makna dari perkataan indah yang berjatuhan

Maafkan aku, sedikit lagi aku akan menjadi dewasa
Berjuanglah, berjuanglah, menang atau kalah
Sebenarnya adalah bukan hal yang penting,kan?
Berjuanglah, berjuanglah, memang benar bahwa kehidupan
Tidak pernah bisa kembali
Suatu saat jika kau menoleh ke belakang
Pada masa muda saat ini
Maka kau pasti akan sangat merindukannya
Berjuanglah, berjuanglah dengan jiwa yang membara
Teruslah hidup dalam kenyataan
Berjuanglah, berjuanglah dalam hari-hari yang terbatas ini
Buatlah bunga bermekaran.. Buatlah bunga bermekaran..

---------------------------------------------------------------------
This is a song for all my friends and myself, who were currently being groped future. 
Berjuanglah !

lagu ini diterjemahkan disini