Selasa, 31 Desember 2013

Sketsa Pelangi : Goresan Ketiga

Bagi yang ingin membaca cerita sebelumnya, berikut linknya : Sketsa Pelangi

Geger Gunung


Aku jatuh cinta pada Geger Gunung.
Pada embun yang menetes lembut, pada bau kopi yang masak di tangkai pohonnya, pada wangi rumput yang menari dengan angin. Pada rimbunnya kanopi. Pada sejuknya hawa lembap pegunungan. Aku jatuh cinta padanya kala itu, kala aku marah pada dunia, ketika aku ingin sendiri tanpa mulut-mulut busuk yang suka mengomentari.
Geger Gunung inilah tempat the most secured. Di balik rerimbunnya pohon yang menyelimutinya, gelap dan lembapnya suasana, membuat Geger Gunung dihindari, dijauhi, dibiarkan tumbuh menjelma sebagai sesuatu yang dikeramatkan, ditakuti  dan sakti.
Salah satu pohon di Geger Gunung dikeramatkan, dijadikan tempat sesembahan manusia – manusia malas yang meminta sukses pada sebatang pohon. Sesajen dan dupa-dupa terbakar selalu menemani pohon beringin yang berusia ratusan tahun itu. Beberapa meter dari pohon itu, berdiri puluhan pohon kopi milik Pak Kaji, ada yang pendek, ada yang tinggi. Pohon kopi dengan kayu kokoh meski tak sekokoh beringin tua.
Pohon inilah tempatku melarikan diri, tempatku menonton hiburan di sore hari, orang – orang yang berganti – ganti mengelar tikar, membawa sesajen, duduk bersila dan menutup mata, fokus pada sesuatu yang fatamorgana. Di sinilah ketika aku menanggis hingga menjerit-jerit tak kan ada yang mengganggu, mengomentari, namun justru ditakuti. Dikira penunggu pohon yang meratapi nasibnya, padahal itu aku yang duduk di ranting tertingggi pohon kopi.
Yah nama tempat ini Geger Gunung.
***

Kamis, 26 Desember 2013

Masa emas bagi anak - anak

Benarlah kata Pak Salim A. Fillah di Tabligh Akbar UNDIP, kira-kira sebulan lalu, bahwa usia 2-7 tahun adalah masa paling sensitif seorang anak terhadap kata-kata. Pada fase ini, sangat terlarang menipu, dusta, dan mengakali anak.

“ah, tidak mungkin saya menipu anak sendiri..”
mungkin itu yang terlintas dalam pikiran anda. Saat itu saya juga berfikir demikian, namun contoh kecil yang diberikan Pak Salim cukup membuat saya tersipu. Kecil saja. Yaitu menyelinap ketika keluar rumah, agar anak tidak menangisi kepergian kita. Ya, saya pernah melakukannya. Tenang, bukan dengan anak sendiri tentunya, karna saya masih single, walaupun tidak available untuk saat ini..:). Dalam kasus ini, keponakan atau sepupu kecil saya yang kerap jadi korban.

Rabu, 25 Desember 2013

lamda pada resonansi pertemanan

Ini tentang ukhuwah, lagi - lagi tentang pertemanan.
Tentang ikatan manis yang kalian sebut itu sahabat.

Dari seseorang yang baru ku kenal beberapa minggu ini, saya mendengar sisi lain dari ukhuwah. Jika sebelumnya, di kampus-kampus, kami bangga berderet menyebut diri kami barisan ukhuwah, maka saya menyadari bahwa itu tak sebagaimana semboyan berdiri tegak.
 “Ukhuwah itu tentang hati, tentang ikatan yang berasal dari sini,” ujarnya sambil menunjuk ke dadanya. 
Dia tidak bisa dipaksa, kita yang satu kelompok di sini belum tentu satu ikatan di sini. Belum tentu satu frekuensi. Belum tentu nama kita tertulis di hati yang lainnya.
Seperti resonansi, resonansi hati tidak bisa dipaksakan. Semua kembali pada hati masing-masing.”
.

Minggu, 15 Desember 2013

Photoscene :: 1001 alasan tidak pacaran ~Wooaa




This photoscene i get from : here
Postingnya sambil ngekek, khususon gambar paling bawah... kelingan teman yang jadi korban pembulian abadi.
^__^

Ada yang mau menambahkan?

Minggu, 08 Desember 2013

Sketsa Pelangi : Goresan Kedua

**Bagi yang ingin membaca sketsa goresan pertama, berikut linknya : Goresan pertama

Crayon Hitam 

Suatu masa, ketika tangan kananku sudah cukup untuk menyentuh telinga ketika dilingkarkan di atas kepala. Masa ketika berlarian di bawah hujan adalah heroin. Berguling di dalam lumpur adalah candu.
Kala itu, musim panen. Masa dimana beberapa petak sawah masih berisi padi yang melengkung kuning dan beberapa petak yang lain sudah berubah menjadi kotakan berisi air dan batang padi yang membusuk. Petani biasanya membiarkan petak – petak yang sudah dipanen dialiri air, agar batang keras itu membusuk dan mudah dibajak. Surga bagi ikan kecil, belut dan bebek dalam mencari penghidupan.
Di sela – sela batang yang tingginya kurang dari tinggi lutut anak kelas satu SD itu, berkembang biak ikan – ikan kecil dan belut. Entah dari mana ikan – ikan itu berasal, mereka seolah makhluk ajaib yang selalu datang saat petak sawah itu dialiri air. Mungkin dari curug di ujung bukit, mungkin juga dari blumbang Mang Dasim yang bocor di sebelah saluran irigasi. 
Peternak bebek memanfaatkan musim ini untuk membiarkan bebek mereka membebek sesuka hati di sawah yang memang sengaja dibiarkan kosong pasca panen. Mereka menggunakan paruh lebar mereka untuk menangkap dan menyantap ikan kecil nan malang itu. Saingan bebek – bebek itu hanyalah kami. Laskar lumpur.

Selasa, 03 Desember 2013

Kidung pengelana : Kisah Sekali Duduk

Kemarilah wahai pengelana. 
Beistirahatlah sejenak. Duduk dan temanilah aku dengan secangkir kopi. Berbicara dengan akrab berkisah tentang apa - apa yang kau temui, tentang gelapnya rimba, tentang lengkung indah kanopi dan pemiliknya. Kau bisa memulai darimana pun yang engkau  mau dan aku akan berbicara seputar kehidupanku.

Apa yang ingin ku ceritakan adalah tentang kisah di tengah lengkung pohon beton yang kulewati sepanjang hari. Sesuatu yang menarik di sela - sela lantai paving yang terhampar menggantikan jamrud permadani. Kurasa hambar setawar air sumur yang kau timba jika kau tinggal di desa . Namun izinkanku sedikit bercerita, anggaplah teman lelahmu di ujung senja.

Tiada yang menarik dari cerita ini. Jika kau bosan, hiruplah wewangian kopi di cangkirmu. Rasakan aroma kaffein yang menyatu bersama kepul - kepul asapnya. Dan kembalilah menatapku, mendengarkanku. Cerita singkat yang hanya cukup kau dengar sekali duduk.

Baiklah, biar ku mulai cerita ini.
Suatu ketika di saat aku berjalan pulang, kelelahan setelah bertarung melawan jutaan biner angka digital dan sandi - sandi untuk mengirimkan benda tak tampak, aku bertemu dengan seorang gadis tinggi nan putih, rambutnya diikat ekor kuda menjuntai seperti tren mode saat ini. Seragam hitam bersimbol huruf T dan V saling bertumpuk menandakan dia adalah bagian dari 3 gedung besar bersebelahan yang hampir seluruh pasukannya berpakaian serba hitam, memanggul benda berlensa dan microfon kabel kemana - mana.

Gadis itu berjalan dua langkah di depanku, dia berjalan sambil mengobrol dengan nenek tua di sebelahnya. Singkat cerita kami memiliki tujuan yang sama, warung tegal di belokan gang sebelah parkiran. Aku duduk membelakangi pintu, sedang mereka duduk bersebelahan. Sisi kanan mereka berdekatan dengan pintu dan juga diriku, aku mendengar setiap detil percakapan itu secara ilegal.

Nenek itu bukanlah nenek sang gadis, terlihat dari wajah tak mirip dan kasta pakaian yang kontras, bahkan kastaku dan kasta gadis itu cukup jauh. Tas dan dompetnya merek ternama. Dia bertemu nenek itu di pertigaan kampus Paramadina, dimana sang nenek terlihat pucat dan limbung, Kau mau tahu? Nenek itu berjalan dari Pasar Minggu hingga Tegal Parang utara!!! Jarak yang bagiku anak muda baru lulus saja enggan untuk menapakinya. Membayangkannya pun sesak nafas.

Dari percakapan itu aku hanya tersenyum, senyum karena gadis kasta tinggi ini menawarkan mobil berAC dan makanan gratis pada nenek yang baru ditemuinya 5 menit. Berbicara akrab seolah nenek dan cucu. Membuat iri seisi warteg,  terutama kaum adam di pojokan yang sesekali melirik, menatap dengan cemburu. 
"Andai aku menjadi nenek itu,"  dan mungkin hal - hal lain yang aku ku tebak dari sorotan matanya.

Bahkan aku pun cemburu karena apapu yang aku miliki terasa tak sebanding. Terlebih prasangka, prasangka bahwa nenek itu nenek baik - baik, bukankah banyak nenek, ibu dan anak sok baik di jalanan? Aku cemburu karena hatinya lebih lembut dan lentur dibandingkan hatiku! Dia mengulurkan tangan bukan menyibakkan uang. Padahal dompet dan tasnya jika dilelang bisa membuat nenek itu pulang pergi naik taksi dan mendapat bonus sate kambing puluhan kodi.

Sesuatu yang mungkin menjadi sudut pandang berbeda, dia menawari makan dan tumpangan. Menjadikannya akrab bukan menjaga jarak. Menawarkan keramaha bukan memberi uang sumbangan. Wajah memelas dan lusuh sang nenek akan membuat mereka yang melihat akan salah paham. Ternyata nenek ini hanya ingin bertemu cucu yang ada di Manggarai. Bukan nenek yang merengek meminta uang dengan beralasan uang perjalanannya habis. Dia tidak merengek tapi dia berjalan, dia tidak meminta, karena gadis ini menolong sebelum sang nenek meminta, dia menghitung seberapa uangnya seberapa kuat dirinya.

Wahai sang pengelana, ini kisah singkatku, awalnya aku tersedak saat pembicaraan ilegal yang kudengar itu terdengar absurd, jalurnya melenceng. Bagaimana Pasar Minggu - Manggarai bisa nyasar ke Mampang?
Namun itu 'sesuatu' yang bagi gadis itu, I don't care...

Itulah hal yang paling membuatku cemburu, karena dia hanya tersentuh dan membantu...
Sesuatu yg begitu lembut dan bergetar laksana dawai.... 
Nada petikannya yang membuatku cemburu, merdu, 
yah, susahlah kau temui di kota nan egois ini.