Kamis, 09 Oktober 2014

Tentang Luka

Setiap yang dilahirkan akan memiliki ujiannya masing - masing di hidupnya. Ujian yang memapahnya maju atau menjungkirbalikkan kehidupannya. Ini hanya tentang seberapa kuat kita mempertahankan iman untuk memuat kita naik pada level berikutnya atau tentang seberapa kuat kita mengobati luka kita sehingga kita tetap bisa berdiri tegar memenangkan ujian itu sendiri.

Alkisah ada seorang yang mengeluh di hadapan khalayak tentang kekecewaannya dan kepasrahannya sebagai seorang bapak yang menanggung aib putrinya. Dia tertunduk lesu dan berbicara dengan rendah diri bahwa dia adalah seorang bapak yang gagal karena tak mampu menjaga putrinya dengan baik. Bapak yang tertunduk karena putrinya ini adalah satu contoh, bahwa dia memiliki ujian. Ujian yang datang dari putrinya. 

Adapula seorang Ibu yang menangis tertunduk malu di depan ustadzahnya karena putri sulungnya lebih memilih pacarnya yang berbeda keyakinan dibandingkan dirinya, mengatasnamakan cinta sehingga sampai rela mengasari Ibunya, mengatasnamakan cinta hingga melepas cintanya pada Tuhannya. Ibu ini salah satu contoh bahwa ujiannya datang dari anaknya.

Adapula Istri - istri yang menangis karena suami - suami mereka memiliki simpanan lain di hatinya. Atau istri - istri yang dikasari oleh tangan suaminya tanpa alasan yang syar'i yang diperbolehkan. Istri - istri yang meraung menangis karena suaminya senang berjudi. Istri - istri yang diuji oleh akhlak suaminya. 

Adapula anak yang diuji oleh karena akhlak ibu atau ayahnya. Anaknya sholeh dan taat namun ayah atau ibunya jauh dari perangai teladan. Atau adik dan kakak yang teruji karena perangai saudaranya.

Allahu ya Rabbii

Senin, 25 Agustus 2014

Saat aku ingin menyerah



Minum ini secara teratur dan datang ke sini sekian hari lagi.

Ketika itu saya hanya diam mematung, seperti manekin yang menatap kosong lantai mall yang riuh.
Rasanya kelu mendengar susunan kalimat yang sama berkali - kali . Kemarin begitu, bulan kemarin begitu, tahun kemarin begitu. Tidak ada yang berubah, tidak bertambah sehat. Hanya saja, masih hidup.

-

Kadang terpikir keinginan untuk menyerah, biar saja dia bilang aku bisa mati karena ini, aku tidak peduli.
Memakan apapun yang aku mau, Meminum apapun yang aku inginkan. Tidur selama apapun yang bisa kulakukan. Pergi sejauh aku bisa melangkah. Berhenti mengonsumsi pil - pil itu dan berhenti datang menemui orang itu! Bebas, lepas, jadi anak baik lalu  mati. Sesingkat mungkin, secepat kilat.

Tapi, kemudian aku bertanya, bagaimana jika mereka tahu aku menyerah padahal masih mampu untuk berusaha?
Mereka akan marah.
Lalu aku tak bisa mati secepat kilat sebagai anak baik.

-

Dan betapapun aku benci, saat semua mulai datang mengganggu. Mau tidak mau aku akan menemui orang itu lagi. dia akan mengucap kata yang sama, kalimat yang sama. Lalu mengambil secarik kertas dan menggambar seberapa besar rongga yang terbentuk saat ini. Menjelaskan ini dan itu tentang biologi, berharap aku paham lalu berusaha menyehatkan diri.

Esoknya seberapapun aku benci keadaan ini, aku tetap harus tersenyum, bercanda dengan orang, jahil dan menjadi sosok kekanak-kanakan. Menjadi sosok aku yang biasa. Ketika malam telah larut dan suara hanya terdengar sesekali entah dari mana asalnya, aku mulai menggigit handuk sambil menangis tanpa suara. Sakit.


-
Saat aku ingin menyerah.
Djakarta.

Selasa, 08 Juli 2014

Tomorrow's Way


Besok akan menjadi seperti apa ya?
Bahkan besok matahari terbit atau tidak kita tidak pernah tahu, begitu pula seperti apa hari esok bukan?

Walaupun, satu kost sudah memprediksikan bahwa yang akan di-rolling itu aku, entah kenapa masih ada sensasi rasa kaget dan takjub. Setelah 10 bulan sukses membuat zona nyaman di team yang banyak orang bilang itu ngga aman, kemudian mendapat pujian bahwa aku tidak akan pernah pindah kamar, maka kabar ini berubah menjadi kado ramadhan yang unik.

Anehnya, yang diberi kado malah merasa aneh.

Rabu, 02 Juli 2014

[prosa] Memoar Mega Mendung


Awan - awan yang berseliweran tak membuatku berubah pandangan, bagiku selisih antara jauhnya jarak dan rindu hanya sejengkal. Selisih ragu dan tanya hanya sesenti. Lalu hubungan antara mendung dan hujan tak ubahnya seperti jari manis dan kelingking. Selalu terhubung.

Kamis, 12 Juni 2014

Cari Sendiri Hikmahnya

Bismillahirrohmanirrohiim

Obrolan kecil tadi sore di pujasera atas Starm**t Tendean sungguh menarik, singkat, padat dan benar - benar memotivasi. Tentang 'amanah'. Kata ibu ustadzah tempatku mengaji, pekerjaan pun adalah amanah, tugas yang harus diselesaikan sebagai kewajiban, yang mana jika ditambah diniati dengan ibadah akan menjadi amal yang berkah, rejeki yang berlimpah dan rasa syukur yang tumpah ruah.

Erat kaitannya dengan kata amanah. Dahulu, saat masih tinggal di tengah hiruk pikuk kota Semarang kalimat ini menjadi kalimat yang ngtren abis di kontrakan. "Amanah itu dikasih, bukan diminta" .
Ini sangat berkaitan dengan obrolan kami, eh eh eh... tentang amanah dan pekerjaan.

Ceritanya, salah seorang dari kami memutuskan untuk resign, mencari tantangan yang lebih menggila di perusahaan sebelah, dimana sore itu dia menceritakan hasil obrolannya dengan Pak HRD dan Pak Manager. Dia, sebut saja Oknum S, menceritakan bahwa dia mendapat nasihat dari Pak HRD, jika ada keluhan tentang pekerjaan sampaikanlah pada Pak Manager agar dicarikan jalan terbaik, bukan memendam dan menahannya sendiri (lalu akhirnya tidak kuat dan keluar).

Lalu si Oknum S ini juga bercerita bahwa Pak HRD mengatakan bahwa salah seorang dari tim kami, sebut saja Tim M, yang mengeluh tidah betah dan ingin keluar. (what?? sopo kui? hmmm mengingat 8 wajah member tim, mungkinkaaahhh?)
Lalu salah seorang dari pendengar mulai menebak - nebak, seseorang menatapku, lalu berfikir. "apa mungkin Oknum F?" Seorang yang lain langsung menyela, "Ngga lah, diakan yang menawarkan diri masuk tim M."

"Susah lho kalau kita masuk ke suatu tim karena kita yang minta, mau ngeluh aja jadi aneh. Kita yang minta kita yang ngeluh, apalagi kalau ingin keluar. Itu lebih aneh." kata Oknum R.

"Nah, itu . Gue juga berfikir seperti itu, sesusah apapun gue di tim gue, gue lebih milih gue dipindahin daripada gue minta pindah. Beban tahu ga si. Tapi akhirnya gue ga pernah minta sampe akhirnya gue ga kuat buat bertahan."

Oke skip obrolan di atas starm**t.

Lanjut obrolan dengan mas mas, sebut saja Oknum D. Ceritanya kita lagi saling mewawancarai kerjaan masing masing lalu entah mengapa obrolannya jadi seperti ini.

"Kamu pengin pindah tim?" tanya Oknum D.
"Entahlah, antara ada dan tiada," jawabku sekenanya.
"Nanti to, kalau kamu pindah, terus mengalami kerasnya hidup di tim sebelah, lalu mengeluh, lalu merengeek... Paaakkk kembalikan aku ke tim M, terus kamu pikir bisa balik gitu?" ejek dia . But, sincerenly, he is right !!

****

Kita tidak tahu seberapa besar tekanan dan kehidupan orang lain, tim lain, kantor lain. Yang bisa kita lihat hanya hidup kita sendiri, dan kita terlalu fokus pada itu semua sehingga tidak melihat kemungkinan lain bahwa mereka bisa jadi tak seenak yang kita lihat. Begitu juga orang lain yang melihat kita, keren yah, tapi mereka tidak akan mengerti seperti apa keadaan kita sesungguhnya. 

*****

Silakan dicari sendiri hikmah dari obrolan ini. Masing - masing yang membaca memiliki persepsi yang berbeda-beda. 

Djakarta, pertengahan bulan sya'ban.
Saat tahu 3 orang akan resign dan 3 orang lainnya udah resign lebih dulu.

Senin, 21 April 2014

Sekuntum Dandelion


Akhirnya menemukan catatan yang menceritakan dandelion secara apik, elok dan  'seadanya'. Tidak melankolis berlebihan seperti 'saya' .

Check this out

Sekuntum Dandelion

Ini adalah tentang Dandelion. Tentang sekuntum Bunga yang biasa, yang keberadaannya juga dianggap biasa, tumbuh dan merekah diantara rerumputan yang tak terlalu diperhatikan.

Tetapi cobalah lihat sekali lagi. Biarkan pandanganmu jatuh lebih dekat kepada ia yang sempurna berbeda disetiap siklus hidupnya. Mungkin, dan aku rasa memang begitu, pada rentang waktu yang tak terlalu panjang, rasa iba akan memenuhi segenap ruang hatimu. Persis seketika kamu tersadar, bahwa ia terlalu cantik dengan takdirnya yang tak terlalu istimewa.

Rabu, 09 April 2014

Benang Layang - Layang




Layang-layang mampu terbang tinggi jika didukung oleh benang yang berkualitas baik. Jika tidak, bisa putus layang-layang terbawa angin entah kemana. Layang-layang membutuhkan benang untuk dia dapat terbang, tanpa benang dia hanya akan terserak diatas tanah dan menjadi sampah.

Kamis, 03 April 2014

Drama


Ternyata aku bukan Hani melainkan Naeri, ternyata Aku bukan Candy melainkan Eliza.”
Dahulu teman saya pernah berkata, bahwa kita adalah pemeran utama dari drama hidup kita masing-masing.
Maka, teman – teman di sekeliling kita adalah cameo, sekaligus pemeran utama dalam drama hidup mereka sendiri, begitu pula sebaliknya, kita yang selalu menyangka bahwa kita adalah pemeran utama dari drama kita, di hidup orang lain adalah cameo.
Drama apik yang kita perankan disutradarai oleh Allah, manuskrip naskah yang dipentaskan tersimpan di lauful mahfudz. Peran kita begitu sempurna sehingga jika orang lain memerankan peran kita takkan bisa sebaik jika kita yang memerankannya, begitu pula ketika kita ingin memerankan peran orang lain kita takkan bisa. Peran yang sempurna. Aktor dan aktris yang di-casting begitu tepat.

Selasa, 25 Maret 2014

Konspirasi

Konspirasi membuatku merasa jijik dan muak, rencana-rencana dan strategi. Jijik karena kebenaran apapun yang kita dengar menjadi sumbang. Menjadi remah tak utuh, mana jejak kebenaran terasa palsu bertopeng - topeng tanpa rupa.

Dalam konspirasi, apapun yang disampaikan orang - orang adalah yang terbenar dari masing - masing yang berbicara. Tidak ada yang mau disalahkan atau dilemahkan. Dalam konspirasi tidak ada kepercayaan lugu, semua siasat dan stategi jitu, mencari celah, mencari simpati, merencanakan arah - arah pergerakan yang semua basi. Semua berujung pada kemenangan tapi tak murni.


Jumat, 28 Februari 2014

tentang mu

Kau satu - satunya teman yang selalu ada buatku.
Ketika kau tak ada, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa aku.

-----------
Ketika teman SD ku menjauhiku karena aku nerd, aneh, tidak asik diajak main, cengeng, punya bapak yang galak. Saat itu kau berkata bahwa, suatu saat kau akan menemukan teman yang akan menemanimu, dunia ini luas, mereka bukan satu-satunya anak yang hidup di sini.

Ketika teman SMP-ku pilih-pilih teman. Yang orang tuanya terpandang dengan yang terpandang, yang cantik bergerombol dengan yang cantik, yang suka buku? lupakan dia tenggelam di perpustakaan di tengah siang saat yang lain jajan.
Tapi kau benar, dunia ini tidaklah sempit, aku menemukan satu per satu orang - orang terbuang yang lebih perhatian. Yang membuatku mengerti senangnya punya teman. Aku senang main, aku ikut ekskul, aku mulai bergaul.
Tapi kau tak pernah pergi, sekalipun aku punya teman baru. Mengawasi, ketika pertemanan itu terinfeksi penyakit, kami bermusuhan, kami bertengkar layaknya dinamika pertemanan, kau datang lagi, menenangkan.

Ketika SMA, aku mulai berfikir cita-cita, nasib hidup, masa depan, kau mendengarkan.
Aku berbicara tentang pubertas, kau mengajarkan, menenangkan dan memberi banyak nasihat kehidupan.
Aku menangi putus asa karena tak ada satu universitas besar pun yang menerima ajuan beasiswaku, kau membesarkan hatiku.
Memelukku dan mengatakkan aku mampu.

Ketika kuliah aku ditemani begitu banyak orang yang baik. kau tak iri atau kesal, hanya senyum dan berkata, baik-baiklah pada mereka, yang akan menjadi keluarga bagiku di tempat yang jauh, jauh darimu.

Selalu.
Ketika semua teman tak selalu ada, kau ada.
Ketika semua teman datang, kau pun tetap ada.

------------
Ketika kau terbaring begini, aku bisa berbuat apa?
Ketika kau mengerang sakit, aku bisa apa?
Aku ingin menukar, biar, biar saja aku yang sakit, selama kau ada, aku tak apa.
Tapi aku bisa apa? itu tidak mungkin.

ketika mereka berbicara tentang akhir, aku selalu tutup telinga.
Aku tahu semuanya akan kembali, tapi aku takut membayangkan, mengiyakan dan memahami kalau kau juga suatu saat akan kembali.
Aku takut membayangkan hal itu, membayangkan hari itu.
Aku tahu aku salah, aku tahu tak seharusnya demikian.

Tapi kalian pasti punya orang yang berharga bukan?
aku hanya menjadi bingung ketika berfikir orang yang berharga itu tiba-tiba tidak ada.

Ibu.

Kamis, 06 Februari 2014

Cita yang bergeser



Tiba - tiba saya teringat jawaban saya saat interview psikotest di sebuah lembaga psikologi saat mendaftar di perusahaan saya bekerja saat ini. Saat itu, interviewer bertanya, "Apa yang paling berharga bagi anda?" Saat secara spontan, saya menjawab keluarga.

Subuh ini, saat hujan di luar mengguyur jakarta dan kesombongannya, saya teringat kembali jawaban itu yang bersambung pada kata prioritas. Saya mulai memikirkan pergeseran pola prioritas.

Entah sejak kapan, Jepang terlihat tak begitu menarik lagi, entah mengapa kata melanjutkan kuliah S1, transfer atau mimpi pendidikan yang dulu sepertinya indah kini teronggok begitu saja seperti barang bekas yang dicampakkan. Entah kapan kata mimpi mulai berubah arah dan maknanya

Saya menjadi tidak tertarik pada mimpi - mimpi yang tertulis di selebaran kertas dan saya corat - coret ketika itu terlampaui. Berhenti memikirkan tidak, kadang keinginan itu muncul, "Nabung ahh buat transfer, untuk ini untuk itu" tapi kemudian seiring bertambah tua dan hilangnya kesan imut, dibanding lurus dengan banyaknya permintaan tanggung jawab, mimpi itu kini berubah orientasi. Ingin masih, tapi, tak sesemangat mereka yang menulis status ingin pergi keluar negeri atau transfer sedini mungkin.

Saya mulai berfikir keadaan membuat saya menjadi egois jika saya mengambil kesempatan pun jika ada. Orang tua yang memasuki usia renta, anak terakhir, usia 20++ , yah kehidupan tak lagi berpusar atas nama 'saya sebagai aktris tunggal sekaligus main lead' dalam drama yang ditulis oleh Allah ini. Ada banyak tokoh lain yang mulai bersandar seiring ber'tua'nya julukan.

Kemudian saya merasa mimpi - mimpi itu berubah haluan menjadi satu kata yang spontan saya jawab saat interview itu. Cita  yang bergeser makna menjadi indah sekaligus melelahkan ini. Peran baru, karakter baru dalam drama ahhh ini bukan drama, ini dunia nyata yang baru terbangun.

Saat ini, saat saya menulis di bilik blog ini, keinginan saya hanya satu, "pulang". Pulang tanpa ada kata mudik, kembali ke tanah asal. Duduk satu atap dengan Ibu, memasakkan nasi meski tak seenak buatan kakak perempuan, memasak sayur meski di caci bapak karena rasanya tak selezat buatan menantu. Pulang. Saya ingin sekali pulang dan menyelimuti kulit yang mulai mengeriput itu.

Menyiapkan teh hangat di sore hari, menonton televisi bersama, memberi perhatian saat sakit, menakar obat agar tidak terjadi overdosis lagi, mengawasi kesehatan dan pola makan, saya ingin itu saat ini. Saya berharap suatu saat nanti ada masa dimana saya bisa berhenti memerankan peran sebagai seorang engineer yang tinggal sendiri jauh meninggalkan orang tua yang kesepian. Saya berharap saya memiliki kesempatan berperan menjadi anak yang baik.

Suatu kali saya bertemu dengan salah seorang engineer di mushola kantor, katanya kerapkali kita akan terlihat sangat jujur di depan keluarga kita, tidak dibuat-buat atau ditutupi. Benar memang, mereka adalah orang-orang yang mengenal kita, walaupun tak seluruhnya tentang diri kita mereka ketahui, tapi, entah bagaimana hukum alam membuktikan, kita lebih terlihat natural saat bersama mereka.

Keluarga. Betapa saya ingin pulang saat ini.


Jakarta 5 menit sebelum subuh
6 Februari 2014

Senin, 13 Januari 2014

Batas


"Bahwa sesungguhnya kitalah yang membatasi diri.”
Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah scene dejavu yang entahlah, itu membuat saya merasa kalimat ini terasa tidak asing. Hari ini teman satu kelas saya di kampus dating ke Jakarta dan menginap. Lalu kami saling bercerita, saya bercerita bahwa saya merasa saya aneh, dahulu ketika masa kuliah, di ajak jalan ke CL, Matahari, Johar atau tempat belanjaan lain di Semarang (bahkan saat di Pasar Baru Bandung saat Study Tour) saya tidak berminat untuk belanja! Teman – teman bisa membawa satu atau dua barang sedangkan saya hanya ‘menemani’ tanpa ada keinginan ‘membeli’. Bagi saya tidak ada yang membuat saya ingin membeli, biasa saja atau mungkin merasa bahwa saya tidak butuh dan tidak ingin.

Beda dengan saat ini jika diminta kakak ipar menemani belanja bulanan atau ke tempat – tempat belanjaan karena ada perlu, sering saya merasa ‘tersiksa’ (lebay dikit), saya merasa aneh juga ada perasaan seperti ini. Saya merasa sekarang banyak barang bagus. Dan itu mengerikan karena saya jadi memiliki hasrat memiliki barang yang bagi saya itu belum terlalu penting dan dibutuhkan. Walaupun pada akhirnya saya tetap tidak membelinya, tapi benda itu terlihat lebih menarik dari biasanya. Aneh bukan? Masa iya, saya jatuh cinta pada ‘benda’?