Senin, 13 Januari 2014

Batas


"Bahwa sesungguhnya kitalah yang membatasi diri.”
Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah scene dejavu yang entahlah, itu membuat saya merasa kalimat ini terasa tidak asing. Hari ini teman satu kelas saya di kampus dating ke Jakarta dan menginap. Lalu kami saling bercerita, saya bercerita bahwa saya merasa saya aneh, dahulu ketika masa kuliah, di ajak jalan ke CL, Matahari, Johar atau tempat belanjaan lain di Semarang (bahkan saat di Pasar Baru Bandung saat Study Tour) saya tidak berminat untuk belanja! Teman – teman bisa membawa satu atau dua barang sedangkan saya hanya ‘menemani’ tanpa ada keinginan ‘membeli’. Bagi saya tidak ada yang membuat saya ingin membeli, biasa saja atau mungkin merasa bahwa saya tidak butuh dan tidak ingin.

Beda dengan saat ini jika diminta kakak ipar menemani belanja bulanan atau ke tempat – tempat belanjaan karena ada perlu, sering saya merasa ‘tersiksa’ (lebay dikit), saya merasa aneh juga ada perasaan seperti ini. Saya merasa sekarang banyak barang bagus. Dan itu mengerikan karena saya jadi memiliki hasrat memiliki barang yang bagi saya itu belum terlalu penting dan dibutuhkan. Walaupun pada akhirnya saya tetap tidak membelinya, tapi benda itu terlihat lebih menarik dari biasanya. Aneh bukan? Masa iya, saya jatuh cinta pada ‘benda’?