Jumat, 28 Februari 2014

tentang mu

Kau satu - satunya teman yang selalu ada buatku.
Ketika kau tak ada, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa aku.

-----------
Ketika teman SD ku menjauhiku karena aku nerd, aneh, tidak asik diajak main, cengeng, punya bapak yang galak. Saat itu kau berkata bahwa, suatu saat kau akan menemukan teman yang akan menemanimu, dunia ini luas, mereka bukan satu-satunya anak yang hidup di sini.

Ketika teman SMP-ku pilih-pilih teman. Yang orang tuanya terpandang dengan yang terpandang, yang cantik bergerombol dengan yang cantik, yang suka buku? lupakan dia tenggelam di perpustakaan di tengah siang saat yang lain jajan.
Tapi kau benar, dunia ini tidaklah sempit, aku menemukan satu per satu orang - orang terbuang yang lebih perhatian. Yang membuatku mengerti senangnya punya teman. Aku senang main, aku ikut ekskul, aku mulai bergaul.
Tapi kau tak pernah pergi, sekalipun aku punya teman baru. Mengawasi, ketika pertemanan itu terinfeksi penyakit, kami bermusuhan, kami bertengkar layaknya dinamika pertemanan, kau datang lagi, menenangkan.

Ketika SMA, aku mulai berfikir cita-cita, nasib hidup, masa depan, kau mendengarkan.
Aku berbicara tentang pubertas, kau mengajarkan, menenangkan dan memberi banyak nasihat kehidupan.
Aku menangi putus asa karena tak ada satu universitas besar pun yang menerima ajuan beasiswaku, kau membesarkan hatiku.
Memelukku dan mengatakkan aku mampu.

Ketika kuliah aku ditemani begitu banyak orang yang baik. kau tak iri atau kesal, hanya senyum dan berkata, baik-baiklah pada mereka, yang akan menjadi keluarga bagiku di tempat yang jauh, jauh darimu.

Selalu.
Ketika semua teman tak selalu ada, kau ada.
Ketika semua teman datang, kau pun tetap ada.

------------
Ketika kau terbaring begini, aku bisa berbuat apa?
Ketika kau mengerang sakit, aku bisa apa?
Aku ingin menukar, biar, biar saja aku yang sakit, selama kau ada, aku tak apa.
Tapi aku bisa apa? itu tidak mungkin.

ketika mereka berbicara tentang akhir, aku selalu tutup telinga.
Aku tahu semuanya akan kembali, tapi aku takut membayangkan, mengiyakan dan memahami kalau kau juga suatu saat akan kembali.
Aku takut membayangkan hal itu, membayangkan hari itu.
Aku tahu aku salah, aku tahu tak seharusnya demikian.

Tapi kalian pasti punya orang yang berharga bukan?
aku hanya menjadi bingung ketika berfikir orang yang berharga itu tiba-tiba tidak ada.

Ibu.

Kamis, 06 Februari 2014

Cita yang bergeser



Tiba - tiba saya teringat jawaban saya saat interview psikotest di sebuah lembaga psikologi saat mendaftar di perusahaan saya bekerja saat ini. Saat itu, interviewer bertanya, "Apa yang paling berharga bagi anda?" Saat secara spontan, saya menjawab keluarga.

Subuh ini, saat hujan di luar mengguyur jakarta dan kesombongannya, saya teringat kembali jawaban itu yang bersambung pada kata prioritas. Saya mulai memikirkan pergeseran pola prioritas.

Entah sejak kapan, Jepang terlihat tak begitu menarik lagi, entah mengapa kata melanjutkan kuliah S1, transfer atau mimpi pendidikan yang dulu sepertinya indah kini teronggok begitu saja seperti barang bekas yang dicampakkan. Entah kapan kata mimpi mulai berubah arah dan maknanya

Saya menjadi tidak tertarik pada mimpi - mimpi yang tertulis di selebaran kertas dan saya corat - coret ketika itu terlampaui. Berhenti memikirkan tidak, kadang keinginan itu muncul, "Nabung ahh buat transfer, untuk ini untuk itu" tapi kemudian seiring bertambah tua dan hilangnya kesan imut, dibanding lurus dengan banyaknya permintaan tanggung jawab, mimpi itu kini berubah orientasi. Ingin masih, tapi, tak sesemangat mereka yang menulis status ingin pergi keluar negeri atau transfer sedini mungkin.

Saya mulai berfikir keadaan membuat saya menjadi egois jika saya mengambil kesempatan pun jika ada. Orang tua yang memasuki usia renta, anak terakhir, usia 20++ , yah kehidupan tak lagi berpusar atas nama 'saya sebagai aktris tunggal sekaligus main lead' dalam drama yang ditulis oleh Allah ini. Ada banyak tokoh lain yang mulai bersandar seiring ber'tua'nya julukan.

Kemudian saya merasa mimpi - mimpi itu berubah haluan menjadi satu kata yang spontan saya jawab saat interview itu. Cita  yang bergeser makna menjadi indah sekaligus melelahkan ini. Peran baru, karakter baru dalam drama ahhh ini bukan drama, ini dunia nyata yang baru terbangun.

Saat ini, saat saya menulis di bilik blog ini, keinginan saya hanya satu, "pulang". Pulang tanpa ada kata mudik, kembali ke tanah asal. Duduk satu atap dengan Ibu, memasakkan nasi meski tak seenak buatan kakak perempuan, memasak sayur meski di caci bapak karena rasanya tak selezat buatan menantu. Pulang. Saya ingin sekali pulang dan menyelimuti kulit yang mulai mengeriput itu.

Menyiapkan teh hangat di sore hari, menonton televisi bersama, memberi perhatian saat sakit, menakar obat agar tidak terjadi overdosis lagi, mengawasi kesehatan dan pola makan, saya ingin itu saat ini. Saya berharap suatu saat nanti ada masa dimana saya bisa berhenti memerankan peran sebagai seorang engineer yang tinggal sendiri jauh meninggalkan orang tua yang kesepian. Saya berharap saya memiliki kesempatan berperan menjadi anak yang baik.

Suatu kali saya bertemu dengan salah seorang engineer di mushola kantor, katanya kerapkali kita akan terlihat sangat jujur di depan keluarga kita, tidak dibuat-buat atau ditutupi. Benar memang, mereka adalah orang-orang yang mengenal kita, walaupun tak seluruhnya tentang diri kita mereka ketahui, tapi, entah bagaimana hukum alam membuktikan, kita lebih terlihat natural saat bersama mereka.

Keluarga. Betapa saya ingin pulang saat ini.


Jakarta 5 menit sebelum subuh
6 Februari 2014