Kamis, 12 Juni 2014

Cari Sendiri Hikmahnya

Bismillahirrohmanirrohiim

Obrolan kecil tadi sore di pujasera atas Starm**t Tendean sungguh menarik, singkat, padat dan benar - benar memotivasi. Tentang 'amanah'. Kata ibu ustadzah tempatku mengaji, pekerjaan pun adalah amanah, tugas yang harus diselesaikan sebagai kewajiban, yang mana jika ditambah diniati dengan ibadah akan menjadi amal yang berkah, rejeki yang berlimpah dan rasa syukur yang tumpah ruah.

Erat kaitannya dengan kata amanah. Dahulu, saat masih tinggal di tengah hiruk pikuk kota Semarang kalimat ini menjadi kalimat yang ngtren abis di kontrakan. "Amanah itu dikasih, bukan diminta" .
Ini sangat berkaitan dengan obrolan kami, eh eh eh... tentang amanah dan pekerjaan.

Ceritanya, salah seorang dari kami memutuskan untuk resign, mencari tantangan yang lebih menggila di perusahaan sebelah, dimana sore itu dia menceritakan hasil obrolannya dengan Pak HRD dan Pak Manager. Dia, sebut saja Oknum S, menceritakan bahwa dia mendapat nasihat dari Pak HRD, jika ada keluhan tentang pekerjaan sampaikanlah pada Pak Manager agar dicarikan jalan terbaik, bukan memendam dan menahannya sendiri (lalu akhirnya tidak kuat dan keluar).

Lalu si Oknum S ini juga bercerita bahwa Pak HRD mengatakan bahwa salah seorang dari tim kami, sebut saja Tim M, yang mengeluh tidah betah dan ingin keluar. (what?? sopo kui? hmmm mengingat 8 wajah member tim, mungkinkaaahhh?)
Lalu salah seorang dari pendengar mulai menebak - nebak, seseorang menatapku, lalu berfikir. "apa mungkin Oknum F?" Seorang yang lain langsung menyela, "Ngga lah, diakan yang menawarkan diri masuk tim M."

"Susah lho kalau kita masuk ke suatu tim karena kita yang minta, mau ngeluh aja jadi aneh. Kita yang minta kita yang ngeluh, apalagi kalau ingin keluar. Itu lebih aneh." kata Oknum R.

"Nah, itu . Gue juga berfikir seperti itu, sesusah apapun gue di tim gue, gue lebih milih gue dipindahin daripada gue minta pindah. Beban tahu ga si. Tapi akhirnya gue ga pernah minta sampe akhirnya gue ga kuat buat bertahan."

Oke skip obrolan di atas starm**t.

Lanjut obrolan dengan mas mas, sebut saja Oknum D. Ceritanya kita lagi saling mewawancarai kerjaan masing masing lalu entah mengapa obrolannya jadi seperti ini.

"Kamu pengin pindah tim?" tanya Oknum D.
"Entahlah, antara ada dan tiada," jawabku sekenanya.
"Nanti to, kalau kamu pindah, terus mengalami kerasnya hidup di tim sebelah, lalu mengeluh, lalu merengeek... Paaakkk kembalikan aku ke tim M, terus kamu pikir bisa balik gitu?" ejek dia . But, sincerenly, he is right !!

****

Kita tidak tahu seberapa besar tekanan dan kehidupan orang lain, tim lain, kantor lain. Yang bisa kita lihat hanya hidup kita sendiri, dan kita terlalu fokus pada itu semua sehingga tidak melihat kemungkinan lain bahwa mereka bisa jadi tak seenak yang kita lihat. Begitu juga orang lain yang melihat kita, keren yah, tapi mereka tidak akan mengerti seperti apa keadaan kita sesungguhnya. 

*****

Silakan dicari sendiri hikmah dari obrolan ini. Masing - masing yang membaca memiliki persepsi yang berbeda-beda. 

Djakarta, pertengahan bulan sya'ban.
Saat tahu 3 orang akan resign dan 3 orang lainnya udah resign lebih dulu.