Senin, 25 Agustus 2014

Saat aku ingin menyerah



Minum ini secara teratur dan datang ke sini sekian hari lagi.

Ketika itu saya hanya diam mematung, seperti manekin yang menatap kosong lantai mall yang riuh.
Rasanya kelu mendengar susunan kalimat yang sama berkali - kali . Kemarin begitu, bulan kemarin begitu, tahun kemarin begitu. Tidak ada yang berubah, tidak bertambah sehat. Hanya saja, masih hidup.

-

Kadang terpikir keinginan untuk menyerah, biar saja dia bilang aku bisa mati karena ini, aku tidak peduli.
Memakan apapun yang aku mau, Meminum apapun yang aku inginkan. Tidur selama apapun yang bisa kulakukan. Pergi sejauh aku bisa melangkah. Berhenti mengonsumsi pil - pil itu dan berhenti datang menemui orang itu! Bebas, lepas, jadi anak baik lalu  mati. Sesingkat mungkin, secepat kilat.

Tapi, kemudian aku bertanya, bagaimana jika mereka tahu aku menyerah padahal masih mampu untuk berusaha?
Mereka akan marah.
Lalu aku tak bisa mati secepat kilat sebagai anak baik.

-

Dan betapapun aku benci, saat semua mulai datang mengganggu. Mau tidak mau aku akan menemui orang itu lagi. dia akan mengucap kata yang sama, kalimat yang sama. Lalu mengambil secarik kertas dan menggambar seberapa besar rongga yang terbentuk saat ini. Menjelaskan ini dan itu tentang biologi, berharap aku paham lalu berusaha menyehatkan diri.

Esoknya seberapapun aku benci keadaan ini, aku tetap harus tersenyum, bercanda dengan orang, jahil dan menjadi sosok kekanak-kanakan. Menjadi sosok aku yang biasa. Ketika malam telah larut dan suara hanya terdengar sesekali entah dari mana asalnya, aku mulai menggigit handuk sambil menangis tanpa suara. Sakit.


-
Saat aku ingin menyerah.
Djakarta.