Senin, 18 Mei 2015

Menyambut pagi

Jakarta tidak memiliki kunang - kunang, kami hanya memiliki bongkahan gedung yang egois, jalur jalan yang ramai lampu, dan gelapnya hati yang acuh.  Jadi maaf jika catatan ini tanpa mengantar tempat, tanpa mengiring waktu.

Keputusan hiatus memang saya sesalkan. Toh tidak ada yang sms ke saya untuk menulis lagi. Toh tidak ada yang email dan meminta saya bercerita lagi. Toh tidak ada yang menunggui tulisan saya lagi. Ketika saya berhenti dunia tetap berjalan. 

Iya sih. 
Dunia berjalan. Angkot tetap menarik penumpang. Resto cepat saji juga tetap ramai pengunjung. Angin juga tetap saja tuh berhembus walau saya berhenti menulis. Tidak ada yang akan mencari tulisan saya. 

Saya mah apa gitu, tulisannya dicari?
Saya bukan Kurniawan Gunadi yang bukunya PO sampai luar negeri. Bukan Azhar Nurun Ala yang karena karyanya bisa keliling sama istri berbagi ilmu mencari jodoh yang syar'i. Tuhan Maha Romantis dengan takdirnya, begitu juga saya. Duh, saya mah apa?  

Tapi, justru saya yang kesepian.
Saya yang menjadi tumpul mimpi. Sepi tamparan, Kosong inspirasi. Gagal maju dan yah yang pasti saya merindukan aktivitas ini. 

Karena itu saya kembali
Tapi maaf, saya tidak bisa menyadikan hikmah - hikmah manis itu lagi. Karena saya sendiri merasa tidak layak untuk menceritakan hikmah, sedang saya sendiri tidak bisa menjadi seseorang yang mengambil hikmah itu. Saya bercerita hikmah sabar, saya tulis, tapi ketika masalah datang saya tidak bisa mengimplementasikan kata sabar. Malu bukan?

Perkenankan, saya menulis lagi tapi mungkin berbeda dari yang dulu. Sejauh mana perbedaannya, biarkan kalian yang melihat sebagaimana saya bertumbuh di blog ini. 

Kenapa sih pakai hiatus?

Ya kurang lebih seperti itu, sangkin bingung sebelah mana yang bisa ditulis atau diceritakan. Bahkan tangis juga susah leleh. Lelah? Iya. Merasa kecil? Iya. Katanya punya Allah yang Maha Besar, kok merasa kecil?

Saya membaca catatan blog saya, begitu banyak catatan dengan topik "memaafkan". Catatan terdahulu dengan pengunjung terbanyak saya tentang buah mangga juga bertema "memaafkan". Tapi kok kenyataannya memaafkan tidak segampang saya menulis di blog ini. Duh, loh kok jadi jarkoni, ngajari tapi ga iso ngalkoni. Lha iki piye? 
Sesederhana ini alasan saya berhenti.

Tapi apa setelah saya hiatus saya tidak jadi jarkoni?
Hmmm... entahlah. Namun satu yang pasti, saya kehilangan sisi saya yang lain. Sisi positif saat menghadapi masalah. Saya kehilangan penghiburan alami dari diri saya. Jika dibahasakan dari bahasa tumblr, saya terlalu memaksa kehidupan saya menjadi sempurna sehingga kehilangan posisi terbaik yang pernah saya berikan. Sulit memang menjadi baik. Sulit juga bagi saya menjadi sempurna, menuliskan hal baik lalu saya pun sebaik tulisan saya. Tapi saya harus. Saya harus berjuang menjadi lebih baik. 

I regret with my decision, so i come back here.

Sambil menanti fajar yang menyingsing, lembut angin pagi yang segar, mari berteman lagi. Mari berjabat dan menjadi sahabat lagi. Maaf jika aib saya menjadikan saya bukan orang baik lagi dimata anda. Tapi saya masih sama, masih bersemangat untuk belajar menjadi baik. Yuk bertumbuh bersama. Menjadi baik bersama. Bantu saya yuk menjadi baik, dengan kritisi saya saat saya mulai beralih jalur. ^_^

Selamat menyambut pagi.... Selamat menyambut hari baru.
Semoga harimu menyenangkan.

lihazna jakarta pagi


Ditulis Jakarta, 17 Mei 2015 23:45 PM

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung...
Tinggalkan komentar ya.. ^-^