Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2015

Menyambut pagi

Jakarta tidak memiliki kunang - kunang, kami hanya memiliki bongkahan gedung yang egois, jalur jalan yang ramai lampu, dan gelapnya hati yang acuh.  Jadi maaf jika catatan ini tanpa mengantar tempat, tanpa mengiring waktu.

Keputusan hiatus memang saya sesalkan. Toh tidak ada yang sms ke saya untuk menulis lagi. Toh tidak ada yang email dan meminta saya bercerita lagi. Toh tidak ada yang menunggui tulisan saya lagi. Ketika saya berhenti dunia tetap berjalan. 

Iya sih. 
Dunia berjalan. Angkot tetap menarik penumpang. Resto cepat saji juga tetap ramai pengunjung. Angin juga tetap saja tuh berhembus walau saya berhenti menulis. Tidak ada yang akan mencari tulisan saya. 

Saya mah apa gitu, tulisannya dicari?
Saya bukan Kurniawan Gunadi yang bukunya PO sampai luar negeri. Bukan Azhar Nurun Ala yang karena karyanya bisa keliling sama istri berbagi ilmu mencari jodoh yang syar'i. Tuhan Maha Romantis dengan takdirnya, begitu juga saya. Duh, saya mah apa?  

Tapi, justru saya yang kesepian.
Saya yang menjadi tumpul mimpi. Sepi tamparan, Kosong inspirasi. Gagal maju dan yah yang pasti saya merindukan aktivitas ini. 

Karena itu saya kembali
Tapi maaf, saya tidak bisa menyadikan hikmah - hikmah manis itu lagi. Karena saya sendiri merasa tidak layak untuk menceritakan hikmah, sedang saya sendiri tidak bisa menjadi seseorang yang mengambil hikmah itu. Saya bercerita hikmah sabar, saya tulis, tapi ketika masalah datang saya tidak bisa mengimplementasikan kata sabar. Malu bukan?

Perkenankan, saya menulis lagi tapi mungkin berbeda dari yang dulu. Sejauh mana perbedaannya, biarkan kalian yang melihat sebagaimana saya bertumbuh di blog ini. 

Kenapa sih pakai hiatus?

Ya kurang lebih seperti itu, sangkin bingung sebelah mana yang bisa ditulis atau diceritakan. Bahkan tangis juga susah leleh. Lelah? Iya. Merasa kecil? Iya. Katanya punya Allah yang Maha Besar, kok merasa kecil?

Saya membaca catatan blog saya, begitu banyak catatan dengan topik "memaafkan". Catatan terdahulu dengan pengunjung terbanyak saya tentang buah mangga juga bertema "memaafkan". Tapi kok kenyataannya memaafkan tidak segampang saya menulis di blog ini. Duh, loh kok jadi jarkoni, ngajari tapi ga iso ngalkoni. Lha iki piye? 
Sesederhana ini alasan saya berhenti.

Tapi apa setelah saya hiatus saya tidak jadi jarkoni?
Hmmm... entahlah. Namun satu yang pasti, saya kehilangan sisi saya yang lain. Sisi positif saat menghadapi masalah. Saya kehilangan penghiburan alami dari diri saya. Jika dibahasakan dari bahasa tumblr, saya terlalu memaksa kehidupan saya menjadi sempurna sehingga kehilangan posisi terbaik yang pernah saya berikan. Sulit memang menjadi baik. Sulit juga bagi saya menjadi sempurna, menuliskan hal baik lalu saya pun sebaik tulisan saya. Tapi saya harus. Saya harus berjuang menjadi lebih baik. 

I regret with my decision, so i come back here.

Sambil menanti fajar yang menyingsing, lembut angin pagi yang segar, mari berteman lagi. Mari berjabat dan menjadi sahabat lagi. Maaf jika aib saya menjadikan saya bukan orang baik lagi dimata anda. Tapi saya masih sama, masih bersemangat untuk belajar menjadi baik. Yuk bertumbuh bersama. Menjadi baik bersama. Bantu saya yuk menjadi baik, dengan kritisi saya saat saya mulai beralih jalur. ^_^

Selamat menyambut pagi.... Selamat menyambut hari baru.
Semoga harimu menyenangkan.

lihazna jakarta pagi


Ditulis Jakarta, 17 Mei 2015 23:45 PM

Sabtu, 16 Mei 2015

Menemuimu di titik temu




------------------------------------------------------------------------------
Selamat bertemu sobat !
Ketika tulisan ini menjadi temu antara ragu dan rindu.

Ragu.
Menyadari bahwa mimpi - mimpi yang terlalu jauh dari bumi berpijak, rentan membuat sakit.
Menyadari bahwa nasihat baik terkadang pelik ketika yang menasihati hanya seonggok sampah yang tidak lebih dari seorang hypocrite.
Menyadari bahwa apalah kita hanya seseorang yang tidak berarti.
Menyadari bahwa kehadiran kita tidak tak ada yang menanti.

Rindu.
Rindu jemari saya yang menari.
Rindu menelusuri kedalaman hati.
Rindu berbagi agar tak terasa berat sendiri.
Rindu memilih diksi agar pesan ini sampai di hati.
Di dalam cinta ada tiga hal yang selalu tumbuh, Rindu. Senang. Lalu khawatir alias takut kehilangan -by Rindu
Berbahagianya seseorang yang dilarung cinta, merindui titik temu, membaur dalam senang, mendekat karna tak ingin dipisahkan.
Saya ingin menjadi bagian mereka yang teracuni cinta.
Saat saya merindui titik temu ini, ketika saya membaur dalam senangnya berproses, saat saya tak ingin menjauh lebih lama. Ketika saya takut saya tidak bisa menulis lagi.

Tidak ada alasan lain. Tidak ada .
Saya hanya ingin kembali mencintai apa yang sedari kecil saya cintai

Antara ragu dan rindu.
Bismillah.
Menemuimu di titik temu.


16 Mei 2015 
6 Bulan setelah hiatus

------------------------------------------------------------------------

Kamis, 09 Oktober 2014

Tentang Luka

Setiap yang dilahirkan akan memiliki ujiannya masing - masing di hidupnya. Ujian yang memapahnya maju atau menjungkirbalikkan kehidupannya. Ini hanya tentang seberapa kuat kita mempertahankan iman untuk memuat kita naik pada level berikutnya atau tentang seberapa kuat kita mengobati luka kita sehingga kita tetap bisa berdiri tegar memenangkan ujian itu sendiri.

Alkisah ada seorang yang mengeluh di hadapan khalayak tentang kekecewaannya dan kepasrahannya sebagai seorang bapak yang menanggung aib putrinya. Dia tertunduk lesu dan berbicara dengan rendah diri bahwa dia adalah seorang bapak yang gagal karena tak mampu menjaga putrinya dengan baik. Bapak yang tertunduk karena putrinya ini adalah satu contoh, bahwa dia memiliki ujian. Ujian yang datang dari putrinya. 

Adapula seorang Ibu yang menangis tertunduk malu di depan ustadzahnya karena putri sulungnya lebih memilih pacarnya yang berbeda keyakinan dibandingkan dirinya, mengatasnamakan cinta sehingga sampai rela mengasari Ibunya, mengatasnamakan cinta hingga melepas cintanya pada Tuhannya. Ibu ini salah satu contoh bahwa ujiannya datang dari anaknya.

Adapula Istri - istri yang menangis karena suami - suami mereka memiliki simpanan lain di hatinya. Atau istri - istri yang dikasari oleh tangan suaminya tanpa alasan yang syar'i yang diperbolehkan. Istri - istri yang meraung menangis karena suaminya senang berjudi. Istri - istri yang diuji oleh akhlak suaminya. 

Adapula anak yang diuji oleh karena akhlak ibu atau ayahnya. Anaknya sholeh dan taat namun ayah atau ibunya jauh dari perangai teladan. Atau adik dan kakak yang teruji karena perangai saudaranya.

Allahu ya Rabbii

Selasa, 08 Juli 2014

Tomorrow's Way


Besok akan menjadi seperti apa ya?
Bahkan besok matahari terbit atau tidak kita tidak pernah tahu, begitu pula seperti apa hari esok bukan?

Walaupun, satu kost sudah memprediksikan bahwa yang akan di-rolling itu aku, entah kenapa masih ada sensasi rasa kaget dan takjub. Setelah 10 bulan sukses membuat zona nyaman di team yang banyak orang bilang itu ngga aman, kemudian mendapat pujian bahwa aku tidak akan pernah pindah kamar, maka kabar ini berubah menjadi kado ramadhan yang unik.

Anehnya, yang diberi kado malah merasa aneh.

Rabu, 02 Juli 2014

[prosa] Memoar Mega Mendung


Awan - awan yang berseliweran tak membuatku berubah pandangan, bagiku selisih antara jauhnya jarak dan rindu hanya sejengkal. Selisih ragu dan tanya hanya sesenti. Lalu hubungan antara mendung dan hujan tak ubahnya seperti jari manis dan kelingking. Selalu terhubung.

Kamis, 12 Juni 2014

Cari Sendiri Hikmahnya

Bismillahirrohmanirrohiim

Obrolan kecil tadi sore di pujasera atas Starm**t Tendean sungguh menarik, singkat, padat dan benar - benar memotivasi. Tentang 'amanah'. Kata ibu ustadzah tempatku mengaji, pekerjaan pun adalah amanah, tugas yang harus diselesaikan sebagai kewajiban, yang mana jika ditambah diniati dengan ibadah akan menjadi amal yang berkah, rejeki yang berlimpah dan rasa syukur yang tumpah ruah.

Erat kaitannya dengan kata amanah. Dahulu, saat masih tinggal di tengah hiruk pikuk kota Semarang kalimat ini menjadi kalimat yang ngtren abis di kontrakan. "Amanah itu dikasih, bukan diminta" .
Ini sangat berkaitan dengan obrolan kami, eh eh eh... tentang amanah dan pekerjaan.

Ceritanya, salah seorang dari kami memutuskan untuk resign, mencari tantangan yang lebih menggila di perusahaan sebelah, dimana sore itu dia menceritakan hasil obrolannya dengan Pak HRD dan Pak Manager. Dia, sebut saja Oknum S, menceritakan bahwa dia mendapat nasihat dari Pak HRD, jika ada keluhan tentang pekerjaan sampaikanlah pada Pak Manager agar dicarikan jalan terbaik, bukan memendam dan menahannya sendiri (lalu akhirnya tidak kuat dan keluar).

Lalu si Oknum S ini juga bercerita bahwa Pak HRD mengatakan bahwa salah seorang dari tim kami, sebut saja Tim M, yang mengeluh tidah betah dan ingin keluar. (what?? sopo kui? hmmm mengingat 8 wajah member tim, mungkinkaaahhh?)
Lalu salah seorang dari pendengar mulai menebak - nebak, seseorang menatapku, lalu berfikir. "apa mungkin Oknum F?" Seorang yang lain langsung menyela, "Ngga lah, diakan yang menawarkan diri masuk tim M."

"Susah lho kalau kita masuk ke suatu tim karena kita yang minta, mau ngeluh aja jadi aneh. Kita yang minta kita yang ngeluh, apalagi kalau ingin keluar. Itu lebih aneh." kata Oknum R.

"Nah, itu . Gue juga berfikir seperti itu, sesusah apapun gue di tim gue, gue lebih milih gue dipindahin daripada gue minta pindah. Beban tahu ga si. Tapi akhirnya gue ga pernah minta sampe akhirnya gue ga kuat buat bertahan."

Oke skip obrolan di atas starm**t.

Lanjut obrolan dengan mas mas, sebut saja Oknum D. Ceritanya kita lagi saling mewawancarai kerjaan masing masing lalu entah mengapa obrolannya jadi seperti ini.

"Kamu pengin pindah tim?" tanya Oknum D.
"Entahlah, antara ada dan tiada," jawabku sekenanya.
"Nanti to, kalau kamu pindah, terus mengalami kerasnya hidup di tim sebelah, lalu mengeluh, lalu merengeek... Paaakkk kembalikan aku ke tim M, terus kamu pikir bisa balik gitu?" ejek dia . But, sincerenly, he is right !!

****

Kita tidak tahu seberapa besar tekanan dan kehidupan orang lain, tim lain, kantor lain. Yang bisa kita lihat hanya hidup kita sendiri, dan kita terlalu fokus pada itu semua sehingga tidak melihat kemungkinan lain bahwa mereka bisa jadi tak seenak yang kita lihat. Begitu juga orang lain yang melihat kita, keren yah, tapi mereka tidak akan mengerti seperti apa keadaan kita sesungguhnya. 

*****

Silakan dicari sendiri hikmah dari obrolan ini. Masing - masing yang membaca memiliki persepsi yang berbeda-beda. 

Djakarta, pertengahan bulan sya'ban.
Saat tahu 3 orang akan resign dan 3 orang lainnya udah resign lebih dulu.

Kamis, 03 April 2014

Drama


Ternyata aku bukan Hani melainkan Naeri, ternyata Aku bukan Candy melainkan Eliza.”
Dahulu teman saya pernah berkata, bahwa kita adalah pemeran utama dari drama hidup kita masing-masing.
Maka, teman – teman di sekeliling kita adalah cameo, sekaligus pemeran utama dalam drama hidup mereka sendiri, begitu pula sebaliknya, kita yang selalu menyangka bahwa kita adalah pemeran utama dari drama kita, di hidup orang lain adalah cameo.
Drama apik yang kita perankan disutradarai oleh Allah, manuskrip naskah yang dipentaskan tersimpan di lauful mahfudz. Peran kita begitu sempurna sehingga jika orang lain memerankan peran kita takkan bisa sebaik jika kita yang memerankannya, begitu pula ketika kita ingin memerankan peran orang lain kita takkan bisa. Peran yang sempurna. Aktor dan aktris yang di-casting begitu tepat.

Jumat, 28 Februari 2014

tentang mu

Kau satu - satunya teman yang selalu ada buatku.
Ketika kau tak ada, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa aku.

-----------
Ketika teman SD ku menjauhiku karena aku nerd, aneh, tidak asik diajak main, cengeng, punya bapak yang galak. Saat itu kau berkata bahwa, suatu saat kau akan menemukan teman yang akan menemanimu, dunia ini luas, mereka bukan satu-satunya anak yang hidup di sini.

Ketika teman SMP-ku pilih-pilih teman. Yang orang tuanya terpandang dengan yang terpandang, yang cantik bergerombol dengan yang cantik, yang suka buku? lupakan dia tenggelam di perpustakaan di tengah siang saat yang lain jajan.
Tapi kau benar, dunia ini tidaklah sempit, aku menemukan satu per satu orang - orang terbuang yang lebih perhatian. Yang membuatku mengerti senangnya punya teman. Aku senang main, aku ikut ekskul, aku mulai bergaul.
Tapi kau tak pernah pergi, sekalipun aku punya teman baru. Mengawasi, ketika pertemanan itu terinfeksi penyakit, kami bermusuhan, kami bertengkar layaknya dinamika pertemanan, kau datang lagi, menenangkan.

Ketika SMA, aku mulai berfikir cita-cita, nasib hidup, masa depan, kau mendengarkan.
Aku berbicara tentang pubertas, kau mengajarkan, menenangkan dan memberi banyak nasihat kehidupan.
Aku menangi putus asa karena tak ada satu universitas besar pun yang menerima ajuan beasiswaku, kau membesarkan hatiku.
Memelukku dan mengatakkan aku mampu.

Ketika kuliah aku ditemani begitu banyak orang yang baik. kau tak iri atau kesal, hanya senyum dan berkata, baik-baiklah pada mereka, yang akan menjadi keluarga bagiku di tempat yang jauh, jauh darimu.

Selalu.
Ketika semua teman tak selalu ada, kau ada.
Ketika semua teman datang, kau pun tetap ada.

------------
Ketika kau terbaring begini, aku bisa berbuat apa?
Ketika kau mengerang sakit, aku bisa apa?
Aku ingin menukar, biar, biar saja aku yang sakit, selama kau ada, aku tak apa.
Tapi aku bisa apa? itu tidak mungkin.

ketika mereka berbicara tentang akhir, aku selalu tutup telinga.
Aku tahu semuanya akan kembali, tapi aku takut membayangkan, mengiyakan dan memahami kalau kau juga suatu saat akan kembali.
Aku takut membayangkan hal itu, membayangkan hari itu.
Aku tahu aku salah, aku tahu tak seharusnya demikian.

Tapi kalian pasti punya orang yang berharga bukan?
aku hanya menjadi bingung ketika berfikir orang yang berharga itu tiba-tiba tidak ada.

Ibu.

Kamis, 06 Februari 2014

Cita yang bergeser



Tiba - tiba saya teringat jawaban saya saat interview psikotest di sebuah lembaga psikologi saat mendaftar di perusahaan saya bekerja saat ini. Saat itu, interviewer bertanya, "Apa yang paling berharga bagi anda?" Saat secara spontan, saya menjawab keluarga.

Subuh ini, saat hujan di luar mengguyur jakarta dan kesombongannya, saya teringat kembali jawaban itu yang bersambung pada kata prioritas. Saya mulai memikirkan pergeseran pola prioritas.

Entah sejak kapan, Jepang terlihat tak begitu menarik lagi, entah mengapa kata melanjutkan kuliah S1, transfer atau mimpi pendidikan yang dulu sepertinya indah kini teronggok begitu saja seperti barang bekas yang dicampakkan. Entah kapan kata mimpi mulai berubah arah dan maknanya

Saya menjadi tidak tertarik pada mimpi - mimpi yang tertulis di selebaran kertas dan saya corat - coret ketika itu terlampaui. Berhenti memikirkan tidak, kadang keinginan itu muncul, "Nabung ahh buat transfer, untuk ini untuk itu" tapi kemudian seiring bertambah tua dan hilangnya kesan imut, dibanding lurus dengan banyaknya permintaan tanggung jawab, mimpi itu kini berubah orientasi. Ingin masih, tapi, tak sesemangat mereka yang menulis status ingin pergi keluar negeri atau transfer sedini mungkin.

Saya mulai berfikir keadaan membuat saya menjadi egois jika saya mengambil kesempatan pun jika ada. Orang tua yang memasuki usia renta, anak terakhir, usia 20++ , yah kehidupan tak lagi berpusar atas nama 'saya sebagai aktris tunggal sekaligus main lead' dalam drama yang ditulis oleh Allah ini. Ada banyak tokoh lain yang mulai bersandar seiring ber'tua'nya julukan.

Kemudian saya merasa mimpi - mimpi itu berubah haluan menjadi satu kata yang spontan saya jawab saat interview itu. Cita  yang bergeser makna menjadi indah sekaligus melelahkan ini. Peran baru, karakter baru dalam drama ahhh ini bukan drama, ini dunia nyata yang baru terbangun.

Saat ini, saat saya menulis di bilik blog ini, keinginan saya hanya satu, "pulang". Pulang tanpa ada kata mudik, kembali ke tanah asal. Duduk satu atap dengan Ibu, memasakkan nasi meski tak seenak buatan kakak perempuan, memasak sayur meski di caci bapak karena rasanya tak selezat buatan menantu. Pulang. Saya ingin sekali pulang dan menyelimuti kulit yang mulai mengeriput itu.

Menyiapkan teh hangat di sore hari, menonton televisi bersama, memberi perhatian saat sakit, menakar obat agar tidak terjadi overdosis lagi, mengawasi kesehatan dan pola makan, saya ingin itu saat ini. Saya berharap suatu saat nanti ada masa dimana saya bisa berhenti memerankan peran sebagai seorang engineer yang tinggal sendiri jauh meninggalkan orang tua yang kesepian. Saya berharap saya memiliki kesempatan berperan menjadi anak yang baik.

Suatu kali saya bertemu dengan salah seorang engineer di mushola kantor, katanya kerapkali kita akan terlihat sangat jujur di depan keluarga kita, tidak dibuat-buat atau ditutupi. Benar memang, mereka adalah orang-orang yang mengenal kita, walaupun tak seluruhnya tentang diri kita mereka ketahui, tapi, entah bagaimana hukum alam membuktikan, kita lebih terlihat natural saat bersama mereka.

Keluarga. Betapa saya ingin pulang saat ini.


Jakarta 5 menit sebelum subuh
6 Februari 2014

Senin, 13 Januari 2014

Batas


"Bahwa sesungguhnya kitalah yang membatasi diri.”
Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah scene dejavu yang entahlah, itu membuat saya merasa kalimat ini terasa tidak asing. Hari ini teman satu kelas saya di kampus dating ke Jakarta dan menginap. Lalu kami saling bercerita, saya bercerita bahwa saya merasa saya aneh, dahulu ketika masa kuliah, di ajak jalan ke CL, Matahari, Johar atau tempat belanjaan lain di Semarang (bahkan saat di Pasar Baru Bandung saat Study Tour) saya tidak berminat untuk belanja! Teman – teman bisa membawa satu atau dua barang sedangkan saya hanya ‘menemani’ tanpa ada keinginan ‘membeli’. Bagi saya tidak ada yang membuat saya ingin membeli, biasa saja atau mungkin merasa bahwa saya tidak butuh dan tidak ingin.

Beda dengan saat ini jika diminta kakak ipar menemani belanja bulanan atau ke tempat – tempat belanjaan karena ada perlu, sering saya merasa ‘tersiksa’ (lebay dikit), saya merasa aneh juga ada perasaan seperti ini. Saya merasa sekarang banyak barang bagus. Dan itu mengerikan karena saya jadi memiliki hasrat memiliki barang yang bagi saya itu belum terlalu penting dan dibutuhkan. Walaupun pada akhirnya saya tetap tidak membelinya, tapi benda itu terlihat lebih menarik dari biasanya. Aneh bukan? Masa iya, saya jatuh cinta pada ‘benda’?

Rabu, 25 Desember 2013

lamda pada resonansi pertemanan

Ini tentang ukhuwah, lagi - lagi tentang pertemanan.
Tentang ikatan manis yang kalian sebut itu sahabat.

Dari seseorang yang baru ku kenal beberapa minggu ini, saya mendengar sisi lain dari ukhuwah. Jika sebelumnya, di kampus-kampus, kami bangga berderet menyebut diri kami barisan ukhuwah, maka saya menyadari bahwa itu tak sebagaimana semboyan berdiri tegak.
 “Ukhuwah itu tentang hati, tentang ikatan yang berasal dari sini,” ujarnya sambil menunjuk ke dadanya. 
Dia tidak bisa dipaksa, kita yang satu kelompok di sini belum tentu satu ikatan di sini. Belum tentu satu frekuensi. Belum tentu nama kita tertulis di hati yang lainnya.
Seperti resonansi, resonansi hati tidak bisa dipaksakan. Semua kembali pada hati masing-masing.”
.

Sabtu, 16 November 2013

Sejarah Penanggalan Hijriah

Nuansa tahun baru masih terasa, oleh karena itu yuk mari belajar memahami sejarah, menelisik sejarah bulan - bulan dalam kalender Hijriah. Yuuuk di simak.
--------------------------------------------------------------------------------

Sejarah Penanggalan Hijriah

MUHARRAM, konon kabarnya dulu sebelum Islam masuk di semenanjung arab, bulan ini di sepakati sebagai bulan yg diHARAMkan untuk berperang, sehingga dinamankan MUHARRAM. Tetapi pada masa tersebut penanggalan menggunakan kalender LUNISOLAR, yaitu penanggalan dengan acuan matahari. Dan bulan MUHARRAM dan biasa di sebut RA’S SANAH atau kepala tahun, bertepatan dengan berakhirnya musim panas. Yang pada masa itu bertepetan dengan bulan September
SYAFFAR, yang berarti Kuning karena Pada bulan Oktober (Pada masa itu) daun daun mulai menguning sehingga bulan ini dinamakan Syaffar.

Sabtu, 02 November 2013

hard to explain, ambiguitos!

Siapa yang bilang kerja itu enak?
Bawa Sini!

Jumat, 04 Oktober 2013

Something in the past, just in the past

Mikhael N Syuauqi di facebook melampirkan sebuah foto yang bagus, isinya berupa tulisan berikut ini : 
Berilah kesempatan seseorang untuk berubah. Karena seseorang yang hampir membunuh Rasululloh pun kini berbaring di sebelah makam beliau. Who? Umar bin Khatab.
Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperan melawan agama Allah-pun akhirnya menjadi pedang-nya Allah. Who? Khalid bin Walid.
Jangan memandang orang dari status dan hartanya. Karena sepatu emas Fir’aun ada di neraka, sedangkan sandal jepit Bilal bin Rabbah terdengar di syurga.
Stop judge someone just because something that they do in the past. Semua dapat berubah. bukankah tidak ada sesuatu yang tidak akan berubah kecuali perubahan itu sendiri? 
Give everyone an opportunity to change, if they want..
Biarkan sebagaimana waktu yang mengalir

Kamis, 03 Oktober 2013

Ganbare ~ berjuanglah

Tidak semua mimpi yang kau gambarkan akan menjadi kenyataan
Kau seharusnya mengerti hal itu
Sekalipun langit akan runtuh, aku masih dapat menerimanya
Tidak apa-apa, aku ingin menjadi orang dewasa yang ramah atas kebohongan
Berjuanglah, berjuanglah dengan jiwa yang membara
Teruslah hidup dalam kenyataan
Berjuanglah, berjuanglah dalam hari-hari yang terbatas ini
Buatlah bunga bermekaran..
Jika ada keinginan yang ingin kau raih, maka jangkaulah dgn penuh  kerinduan
Bahkan kitapun akan meraba-raba untuk meraih hari esok
Aku bisa menemukan makna dari perkataan indah yang berjatuhan

Maafkan aku, sedikit lagi aku akan menjadi dewasa
Berjuanglah, berjuanglah, menang atau kalah
Sebenarnya adalah bukan hal yang penting,kan?
Berjuanglah, berjuanglah, memang benar bahwa kehidupan
Tidak pernah bisa kembali
Suatu saat jika kau menoleh ke belakang
Pada masa muda saat ini
Maka kau pasti akan sangat merindukannya
Berjuanglah, berjuanglah dengan jiwa yang membara
Teruslah hidup dalam kenyataan
Berjuanglah, berjuanglah dalam hari-hari yang terbatas ini
Buatlah bunga bermekaran.. Buatlah bunga bermekaran..

---------------------------------------------------------------------
This is a song for all my friends and myself, who were currently being groped future. 
Berjuanglah !

lagu ini diterjemahkan disini

Kamis, 12 September 2013

Waktu, Blog dan Aku

Tugas akhir kadang memang bisa mendistorsi banyak hal, saya menyadari beberapa waktu ini. Seolah lagu Afgan mulai berdendang dan berdenging memaksa saya untuk setuju. Yap, Tugas Akhir, kau mengalihkan duniaku.

Sepanjang waktu phase pengerjaan, saya sempat vacuum quo dari blog ini.Membiarkannya mati suri, memenuhi blog ini dengan sulur - sulut liar dan ramat - ramat. Membayangkan tampilan blog ini menjadi lusuh dan kotor. Lama tidak menulis juga membuat saya gagap pena, belum lagi teguran Penguji TA yang membuat saya mengkerut agak lama dan berhenti sejenak untuk menulis. Seorang penulis diari (ya begitulah) ditegur karena EYD. Dalemmmm....

Kamis, 22 Agustus 2013

Tanya ( ? )

"Sudah punya momongan?"
Lagi-lagi sebuah pertanyaan mengusik. Saya heran. Bukan lagi pada mereka yang selalu bertanya. Tapi lebih kepada diri saya sendiri. Kenapa saya masih bisa terusik hanya dengan sebuah pertanyaan, padahal saya telah terlatih dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, "kapan lulus", atau, "kapan merit" dan pertanyaan lain yang seolah-olah menyatakan bahwa sayalah pemilik Kitab Lauhful Mahfudz.
Ini adalah cuplikan catatan hati seorang ukhti yang saya baca beberapa bulan kemarin. Catatan ukhti tersebut menarik dan membuat saya berfikir lebih lanjut. Bukan mengenai pernikahan atau momongan atau hal - hal sejenisnya melainkan tentang  tanya (?).

Ada apa dengan 'tanya (?)' ?

Pernah ngga sih, teman - teman pena merasakan sesek, risih atau tidak nyaman akan sebuah pertanyaan? 
Pernah ngga sih, teman - teman pena menyadari bahwa sepanjang hidup kita, kita akan diuji oleh banyak pertanyaan oleh orang - orang di sekitar kita? Dan pertanyaannya selalu berganti menyesuaikan momen, usia dan tahapan ujian hidup teman - teman?

Dari refleksi gila saya, saya menyimpulkan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari tanya (?). Percaya tidak percaya. 

Minggu, 18 Agustus 2013

Insafi Diri


Terkadang lebih mudah untuk melupakan apa yang pernah terjadi dibanding menginsafi diri. Berfikir bahwa tidak ada masa itu, atau menghapus sebuah masa atau sebuah kejadian sehingga seolah - olah tidak pernah terjadi.  Sehingga ke depannya hidup dengan lebih tenang, menutup buku atau lebih tepatnya menghanguskan buku  lalu memulai lembar baru tanpa ada memori yang tidak diinginkan.  Lebih mudah.

Melupakan dan berubah lebih mudah dibanding dengan mengakui bahwa pernah melakukan kesalahan, menyadari diri ini kotor dan berubah. Apakah rasa manusia yang tinggi, sehingga 'harga' dari sebuah pengakuan yang mampu menurunkan imaging diri membuatnya lebih mudah melupakan dibanding mengakui bahwa itu 'masa lalu'?

Senin, 29 Juli 2013

Ramadhan, kami pura - pura rindu

Reblog lagi nih. Insya Allah cukup menampar.
Tulisan ini dibuat oleh 
Azhar Nurun Ala, Anggota BEM UI, Sekarang sedang menuntut ilmu di Jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Ramadhan kami  pura - pura rindu

Ramadhan, ternyata selama ini kami cuma pura-pura merindukanmu.
Sejak dua bulan lalu ketika kami panjatkan doa kepada Allah untuk disampaikan kepadamu, kami selalu bilang kami begitu merindukanmu. Ketika itu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi untuk berjumpa denganmu—takut rasanya, bila ternyata umur ini membuat kami tak punya kesempatan untuk kita saling menyapa, saling mengisi, saling menyemangati. Akhirnya sampai juga hari ini, bahkan sudah separuh Ramadhan kami jalani.

Sabtu, 13 Juli 2013

Tentang Rindu

Bismillahirohmanirohiim
Ya Rasul Allah, Muhammad, mungkin kau tak mengenalku, maka perkenalkan, nama saya Solihatun Khasanah, nama yang bagus bukan? Saya muslim, saya lahir kurang lebih 14 abad setelah engkau menghembuskan nafas terakhir. Orang biasa menyebut dengan zaman akhir. Tapi, saya berharap ini bukanlah benar-benar akhir dari zaman, masih ada harap dalam diri saya, bahwa Islam akan gemilang seperti zamanmu, atau zaman para sahabatmu, suatu hari nanti.
Saya percaya sekalipun zaman ini, semua serba tidak jelas. Ya Rasul Allah, di zaman saat aku lahir, kebenaran serba ambigu. Tidak jelas. Benar salah berupa sama, berwajah sama. Bingung mana yang harus dipilih. Media sang pengabar, mengabarkan kabar yang kabur sesuai kepentingan. Sehingga kami yang tidak begitu berkepentingan merasa bingung mana kabar yang benar dan tidak kabur. Mana kebenaran yang di luar makna kepentingan. Mana kebenaran yang benar-benar ‘benar’ sebagaimana makna ‘benar’ yang sesungguhnya.